Garudaku Terluka

Gambar dapat memiliki Hak Cipta

 

Garuda Pancasila, akulah pendukungmu 
Patriot Proklamasi sedia berkorban untukmu 
Pancasila dasar negara
Rakyat adil makmur sentosa 
Pribadi bangsaku:
 Ayo maju-maju, ayo maju-maju, ayo maju-maju

Syair di atas merupakan syair sebuah lagu yang digubah sangat indah sebagai sumbangsih seorang pemuda bernama Sudharnoto pada zaman kemerdekaan. Lagu ini dibuat sebagai “Mars Pancasila”, yang kemudian lebih dikenal dengan judul “Garuda Pancasila”. Syair yang demikian singkat ini mengandung pesan penting tentang keberadaan bangsa Indonesia yang dilambangkan dengan burung Garuda Pancasila. Dalam syair ini, pesan kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang turut serta dalam memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan dinyatakan:

“Akulah Pendukungmu!
Aku bersedia berkorban untukmu!
Aku mau melihat Indonesiaku maju, maju, maju dan hanya maju!”

Garudaku pun mulai maju, terbang mengepakkan sayap di langit yang biru, memperlihatkan kebebasannya, kekuatannya, dan kemegahannya sebagai bangsa mandiri. Garudaku maju dengan ambisi bersama, pribadi-pribadi yang bersatu, yang mengedepankan pengorbanan diri dan sebuah hasrat besar untuk kemajuan bangsa.

Nilai-nilai yang dibawa terbang tinggi oleh Garudaku ialah Ketuhanan Yang Mahaesa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Garudaku terbang bersama harapan bangsa, menjadi bangsa yang besar, adil, makmur dan sentosa serta mampu berdiri bersama jajaran bangsa-bangsa.

Akan tetapi, harapan yang terbang makin tinggi sebagai sebuah bangsa yang maju, aman, sentosa, adil dan makmur sesaat terhenti ketika kulihat Garudaku terluka. Garudaku terluka oleh tangan-tangan besi yang mengedepankan kepentingan diri di atas kepentingan rakyat. Garudaku terluka oleh hati yang dingin akibat paradigma berpikir keyakinan diri yang paling benar. Garudaku terluka oleh kepala batu yang menyusun strategi untuk memecah-belah persatuan demi tercipta ambisi dan tujuan pribadi. Garudaku terluka saat nilai-nilai yang dibawanya sengaja dipudarkan, perlahan dilupakan, bahkan sempat ingin digantikan. Garudaku terluka oleh ketidakpedulian dan sikap berpangku tangan. Garuda yang terluka kini tak dapat terbang tinggi.

Siapakah yang sanggup memulihkan Garudaku yang terluka? Pertanyaan ini seperti menjawab pertanyaan mengenai siapakah yang sanggup memulihkan luka seorang istri yang disakiti suami. Luka seorang istri hanya sanggup dipulihkan oleh perkataan dan tindakan maaf yang didasari oleh cinta tulus sang suami. Dari manakah asalnya cinta tulus dan pemulihan berasal? Dari Sang Pencipta manusia, Allah Yang Mahaesa. Demikian juga dengan luka Garudaku. Lebih cepat pulih oleh insan-insan yang secara aktif melukai Garudaku dan insan-insan pasif yang tak memandang hadirnya Garudaku. Itu berarti engkau, aku, dan mereka. Luka Garudaku dapat segera pulih oleh kita. Dari mana sumber pemulihan terjadi? Dari Dia, Sang Pencipta bangsa kita, Tuhan Yang Mahaesa.

Menyadari adanya luka membuat Garudaku berhenti sejenak. Berhenti bukan untuk menyerah. Berhenti untuk berefleksi. Berhenti untuk tertunduk pada sang ilahi. Berhenti dari kebanggaan dan kesombongan diri. Berhenti dari arah dan tujuan yang tak pasti. Berhenti untuk melihat, apakah masih ada yang tersisa bersamaku? Berhenti untuk terdiam sejenak sebelum terbang lebih tinggi. Berhenti untuk kita bisa melihat dengan jelas apa yang dicengkeram dengan kuat oleh kaki Garudaku. Sebuah tulisan: “BHINEKA TUNGGAL IKA.” Berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Garudaku ingin kita bisa melihat dan menyadari dengan jelas, bahwa kita berasal dari beragam suku, agama, kepercayaan, dan bahasa yang berbeda. Tapi, perbedaan itu tak pernah dapat memisahkan kita sampai kapan pun. Perbedaan itu indah. Perbedaan itu kekayaan bangsa kita. Perbedaan itu yang menyatukan bangsa kita.

Jangan lukai lagi Garudaku, Garudamu, Garuda kita. Mari ambil sikap meringankan, dan bukan menambah, luka yang ada. Mengobati, dan bukan menyakiti, luka yang ada. Membalut, dan bukan membongkar makin dalam, luka yang ada. Selama masih ada cinta tulus yang lahir dari sumber kasih abadi, luka apa pun dan seberapapun besar luka itu akan terobati. Selama masih ada pribadi-pribadi yang memiliki cinta untuk bangsa Indonesia, harapan bangsa masih besar. Selama masih ada cinta, di sana ada pemulihan. Selama masih ada cinta, pasti ada pengorbanan. Selama ada cinta, masih ada pengharapan persatuan bangsa.

 

dia/selfy antasia

 

Karya PCTA Indonesia DPC Blitar

Satu lagi pada bulan Oktober 2018 ini, sebagai wujud rasa syukur, merupakan sebuah kebahagiaan  bagi Organisasi PCTA Indonesia secara nasional, karena saudara saudara dari PCTA Indonesia DPC Blitar selesai melaksanakan karya nyatanya dalam bentuk pembangunan Rumah Layak Huni di Dusun Sidomulyo, Desa Wates, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar.

Pembangunan Rumah Layak Huni dari PCTA Indonesia DPC Blitar ini, diberikan kepada seorang ibu bernama Sunarsih, ia seorang janda dari dusun tersebut, yang mana kondisi rumah Ibu Sunarsih kondisinya sudah rusak parah.  Bahkan di beberapa bagian harus ditopang tiang penyangga agar tidak ambruk.

Atas Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa, bersama sama dengan dengan Karang Taruna Bangkit Sanjaya, masyarakat dan Koramil 0808/19 Wates, pembangunan rumah layak huni bagi  ibu Sunarsih dapat dilaksanakan secara gotong royong, hingga selesai dan diserahkan.

Selamat untuk ibu Sunarsih, semoga Rumah yang diserahkan memberikan kebahagiaan bagi ibu dan keluarga.

Dan semoga kegiatan sosial ini, juga menjadi penyemangat bagi seluruh anggota, simpatisan serta pengurus di seluruh wilayah kerja organisasi PCTA Indonesia dimanapun berada. 

 

 

 

 

fbdpp /jatimtimes /indonesia /snv 

Cinta Tanah Air menurut Agama di Indonesia

Dalam Pustaka Wedha pada Bab Sradha dan Bakti (Keimanan dan Kewajiban) umat Hindu terdapat empat Catur Guru, yaitu :

  • Guru Swadyaya, yaitu bhakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan;
  • Guru Wisesa, yaitu bhakti kepada negara/pemerintah;
  • Guru Rupaka, yaitu bakti kepada leluhur;
  • Guru Pengajian, yaitu bhakti kepada guru.

Kewajiban bernegara dan beragama dalam HIndu dapat kita sebut dengan Dharmaning Agama (keimanan) dan Dharmaning Negara (kemanusiaan). Dharma Agama merupakan wujud bakti umat Hindu terhadap ke-Maha Kuasaan Tuhan dalam memerankan ajaran agama yang inovatif, kreatif dan integratif, disamping meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan sebagai bangsa Indonesia yang majemuk.

Sedangkan Dharma Negara adalah hak dan kewajiban serta tanggung jawab umat HIndu untuk senantiasa membela, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan, sekaligus mencintai tanah airnya.

Terkait dengan rasa cinta tanah air (nasionalisme) sebagai umat Hindu dalam membangun masa depan bangsa dan negara, adalah upaya yang patut terus menerus dilakukan. Kualitas amal hanya dapat dipahami melalui tingkah laku dan kepribadian seseorang, yang pada hakikatnya mengantarkan manusia kepada sifat kedewataannya (Madawa) dari sifat keraksasaannya (Danawa). Sifat demikian merupakan hakikat dari pengejawantahan Dharma Agama dan Dharma Negara.

Dalam mantra atau sloka disebutkan ” Yauma swargat api gariyasi” yang artinya manusia lebih cinta tumpah darah (tanah air) daripada Surga dan Moksa.

Maka saya orang Indonesia yang beragama Hindu, bukan orang Hindu yang berada di Indonesia. Jadi jika engkau seorang Hindu, jadilah Hindu yang taat, karena ketaatanmu itu maka akan mencintai tanah airmu.

 

Buddha Gautama mendorong para siswa agar memiliki kecintaan terhadap tanah air, dimana mereka lahir dan tinggal untuk tumbuh berkembang. Beliau memberikan pesan: “Para biku, Aku izinkan mempelajari Dharma dengan bahasamu sendiri” (Vin.ii.139). Maka dalam perkembangan Buddha di belahan dunia, mereka memiliki bentuk budaya yang berbeda beda. Buddha merubah perbuatan buruk, menjadi perbuatan baik.

Di Indonesia, sejak kejayaan Sriwijaya hingga sekarang, perkembangan Buddhaisme tidak merubah budaya yang menjadi kekayaan bangsa. Terlihat jelas, peninggalan Buddhaisme masa lampau berupa bangunan candi dengan corak seni dan budaya Nusantara. Semboyan pemersatu bangsa ” Bhinneka Tunggal Ika ” (KS. 139.5). Karya seorang guru Dharma, putra bangsa di zaman kerajaan Majapahit di abad ke 14, ini adalah wujud cinta tanah air.

Demikian juga di era kemerdekaan bangsa Indonesia hingga sekarang, pelopor kebangkitan Agama Buddha Indonesia, mendiang Bhante Jinarakkhita Mahathera, menekankan “cinta tanah air” melalui gerakan agama Buddha Indonesia atau Buddhayana, bukan agama Buddha di Indonesia, dengan ciri kepribadian bangsa Indonesia. Beliau mengedepankan pandangan non sektarian untuk dapat melihat secara obyektif ke-bhinneka-an yang ada di Indonesia; suku, agama, ras dan antara golongan. Mengajak untuk terus menciptakan kerukunan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama dengan senantiasamemiliki perbuatan, ucapan, pikiran yang berdasarkan cinta kasih, saling berbagi, tidak saling menyakiti dan menghargai segala bentuk perbedaan (A.iii.288289). Inilah wujud cinta tanah air yang diajarkan Buddha dari zaman lampau hingga sekarang.

Maka saya orang Indonesia yang beragama Buddha, bukan orang Buddha yang berada di Indonesia. Jadi jika engkau seorang Buddhis, jadilah Buddhis yang taat, karena ketaatanmu itu maka akan mencintai tanah airmu.

 

Di dalam hadist Rasululloh Shallallahu ‘alaihi Wasallam menerangkan bahwa Hubbul Waton Minal Iman yang artinya cinta tanah air bagian dari iman. Sebagai wujud cintaNya Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia, diciptakanlah tanah air sebagai tempat tinggal manusia itu. Sebagai wujud cintanya manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala wajib mencintai apa yang sudah diciptakan untuknya, yaitu tanah air. CintaNya Allah bertemu dengan cintanya manusia pada tanah air.

Dalam Al Qur’an surat ke-49 Al-Hujurat ayat 13 menerangkan bahwa “Hai manusia, sesungguhnya Kami (Allah) menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa bangsa dan bersuku suku supaya kamu saling kenal-mengenal (nilai kebangsaan/kemanusiaan). Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang  paling taqwa (nilai keimanan) di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. ”

Maka saya orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang berada di Indonesia. Jadi jika engkau seorang muslim, jadilah muslim yang taat, karena ketaatanmu itu maka akan mencintai tanah airmu.

 

San Cai, atau Tiga Entitas Utama merupakan ontologi dari filsafat dan agama Khonghucu, bukan bersifat fisik, tetapi bersifat abstrak. Ajaran Khonghucu mengakui bahwa Tuhan sebagai asal-usul alam semesta dan juga mengendalikan sistem pergerakan alam, akan tetapi manusia juga memiliki kehendak bebas untuk menentukan pilihan dan juga mempunyai tanggung jawab atas perbuatannya sendiri.

Dengan ontologi San Cai itu, agama Khonghucu menekankan pada tanggung jawab manusia kepada Tuhan, Sang Pencipta, tanggung jawab kepada sesama manusia, dan kepada bumi tempat hidupnya. Konsep ini dikenal dengan ungkapan Tian Ren He Yi – Tuhan dan manusia bersatu.

Pembagian San Cai adalah :

Di Dao : Jalan Suci Bumi, hubungan manusia dengan alam (tanah air)

Ren Dao : Jalan Suci Manusia, hubungan manusia dengan manusia (kemanusiaan)

Tian Dao : Jalan Suci Tuhan Yang Maha Esa, hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (keimanan).

Agama Khonghucu tidak mengenal bangsa pilihan atau umat yang dilebihkan atas yang lain. Juga tidak ada tanah suci atau tanah perjanjian, seluruh bumi sama sucinya, karena sama-sama diciptakan Tuhan, umat Khonghucu harus setia kepada pemerintah dimana dia menjadi warga negara.

“Tanah air harus dijaga dari generasi ke generasi, tidak boleh ditinggalkan sekedar pertimbangan pribadi, bersiaplah untuk mati, tetapi jangan pergi”. (Bingcu I B: 15:3).

Tidak menyalahkan orang lain. Aku sendiri belum tentu benar. Senantiasa ingat memohon maaf kepada Tuhan. Senantiasa menjaga kesucian dan kebersihan jiwa.

Maka saya orang Indonesia yang beragama Khonghucu, bukan orang Khonghucu yang berada di Indonesia. Jadi jika engkau seorang Khonghucu, jadilah Khonghucu yang taat, karena ketaatanmu itu maka akan mencintai tanah airmu.

 

Dari seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman, yaitu : ” Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri “. Galatia 5:14, Roma 13:9, Yakobus 2:8, Lukas 10:27, Imamat 19:18, Matius 19:19, Matius 22:39. Melalui firman ini Tuhan menunjukkan bahwa pentingnya mengasihi sesama manusia yang di ejawantahkan dalam nilai luhur kemanusiaan dalam keimanan Tuhan.

“Cintai negaramu sendiri; adalah nilai kebajikan Kristiani untuk menjadi patriotik. Tetapi bila patriotisme menjadi nasionalisme yang membawamu melihat kepada orang lain, kepada negara lain dengan acuh tak acuh, cemoohan tanpa kemurahan hati dan keadilan Kristiani, maka itu adalah dosa.” St. Josemaria Escriva.

Dengan kata lain menurut mendiang Rama Soegijapranata sebagai Uskup Katolik Pribumi pertama Indonesia, ” Mencintai tanah air bukanlah sebuah pilihan, bukan sesuatu yang opsional. Mencintai tanah air adalah sebuah kewajiban, sebuah kewajiban yang mengalir berasal dari syukur dan terima kasih. Gereja Katolik mengajarkan bahwa mencintai tanah air merupakan salah satu wujud dari perintah ke 4 dari 10 perintah Allah, sebagaimana tertulis dalam Katekismus, kita harus mengasihi Gereja Katolik, dan dengan demikian juga mengasihi negara dengan segenap hati. Umat katolik memiliki kewajiban untuk melayani dan mencintai orang tuanya, yang telah memberikan kehidupan dan membesarkannya. Demikian juga sebagai “rahim” peradaban dan masyarakat tempat dimana dibesarkan, tanah air layak untuk mendapatkan “pelayanan dan cinta kita”. Sebagai seorang Katolik, kita terikat oleh cinta kasih untuk melayani dan berkarya bagi kebaikan tanah air Indonesia kita.

Maka saya orang Indonesia yang beragama Katolik, bukan orang Katolik yang berada di Indonesia. Jadi jika engkau seorang Katolik sejati, jadilah Katolik yang taat, karena ketaatanmu itu maka akan mencintai tanah airmu.

 

Berdoa dan berjuang bagi bangsa adalah sebuah tindakan untuk menyatakan rasa cinta pada tanah air. Nabi Yeremia dalam Yeremia 29:7 menyerukan, ” Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” Melihat konteks bangsa Israel pada masa itu, yang mengalami pembuangan ke Babel. Tafsiran Alkitab Full Life bahwa penduduk Yehuda menjadi tawanan di Babel dan Firman Tuhan ,menghendaki supaya mereka itu mengusahakan kesejahteraan atau kemakmuran kota dimana Allah menempatkan mereka karena mereka tidak akan kembali ke tanah perjanjian hingga genap 70 tahun. Oleh sebab itu, kita seharusnya berdoa untuk bangsa dan negara Indonesia ini.

Sebagai suatu bangsa dengan sentimental kebangsaan yang tinggi, tentu bangsa Yahudi enggan berdoa bagi kota dimana mereka akan dibuang. Lebih-lebih kota itu adalah milik penguasa kerajaan yang telah menjadikan mereka sebagai tawanan, Akan tetapi, itulah yang Tuhan kehendaki, bahwa kesejahteraan kota tersebut adalah kesejahteraan umat.

Dalam Amsal 14:34 menyerukan ” Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa”, yang artinya baik buruknya suatu bangsa adalah dari perbuatan bangsa itu sendiri.

Maka saya orang Indonesia yang beragama Kristen, bukan orang Kristen yang berada di Indonesia. Jadi jika engkau seorang Kristen, jadilah Kristen yang taat, karena ketaatanmu itu maka akan mencintai tanah airmu.

 

HIDUP BANGUN AKTIF BERJUANG

” Karena apapun agamanya, kita wajib cintai dan jaga tanah air kita Indonesia Raya, dengan sepenuh hati.  Tanpa adanya rasa cinta tanah air, robohlah negara itu ” – Rama Kyai Muchammad Muchtar Mu’thi, Pemrakarsa Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia, yang dijiwai manunggalnya keimanan dan kemanusiaan.

 

 

 

PCTA Indonesia /setjendpp /snv – materi gerakan cinta tanah air 

 

Pelaku Kongres Sumpah Pemuda

 

Pernahkah kita mengetahui, siapa saja pemuda pemuda Indonesia yang pada waktu peristiwa Lahirnya Sumpah Pemuda ini, mereka adalah pemuda pemuda Indonesia yang terlibat langsung dalam aktivitas tonggak besar Bangsa Indonesia ?

Terlepas dari apa yang terjadi di kemudian hari, sejarah Indonesia mencatatkan keterlibatan mereka semua ini dalam aktivitas pergerakan bangsa Indonesia.

Soenario

Merupakan seorang pengacara yang aktif membela para aktivis kemerdekaan pada waktu itu.  Soenario dipercaya sebagai penasihat panitia perumusan Sumpah Pemuda dan juga pembicara.  Pria yang lahir di Madiun, Jawa Timur pada tahun 1902 ini memiliki nama lengkap Prof. Mr. Sunario Sastrowardoyo.  Setelah menyelesaikan masa studinya di tanah air, dia langsung berangkat ke Belanda guna melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Sunario adalah salah satu tokoh yang berperan aktif dalam dua peristiwa yang menjadi tonggak sejarah nasional Manifesto 1925 dan Konggres Pemuda II. Ketika Manifesto Politik itu dicetuskan ia menjadi Pengurus Perhimpunan Indonesia bersama Hatta. Sunario menjadi Sekretaris II, Hatta bendahara I. Akhir Desember 1925, ia meraih gelar Meester in de rechten, lalu pulang ke Indonesia. Aktif sebagai pengacara, ia membela para aktivis pergerakan yang berurusan dengan polisi Hindia Belanda. Ia menjadi penasihat panitia Kongres Pemuda II tahun 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda. Dalam kongres itu Sunario menjadi pembicara dengan makalah ” Pergerakan Pemuda dan Persatuan Indonesia “.

Johannes Leimena

Johannes Leimena lahir di Ambon, Maluku pada tahun 1905.Saat Kongres Pemuda II masih berjalan, dia merupakan anggota panitia kongres.Perlu diketahui bahwa Leimena merupakan mahasiswa aktivis yang mengetuai organisasi Jong Ambon. Dengan keaktifannya di Jong Ambon, ia ikut mempersiapkan Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928, yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Perhatian Leimena pada pergerakan nasional kebangsaan semakin berkembang sejak saat itu.

Setelah menempuh pendidikan kedokterannya di STOVIA Surabaya (1930), ia melanjutkan pendidikan di Geneeskunde Hogeschool (GHS – Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta yang diselesaikannya pada tahun 1939. Ia juga dikenal sebagai salah satu pendiri Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI)

Soegondo Djojopoespito

Seorang aktivis pendidikan yang juga tinggal di kediaman Ki Hajar Dewantara. Tokoh pemuda yang satu ini lahir pada tahun 1905. Tidak banyak orang yang tahu bahwa Soegondo inilah yang memimpin jalannya Kongres Pemuda II hingga menghasilkan Sumpah Pemuda yang kini terkenal.

Soegondo adalah seorang lulusan Rechts Hooge School, Sekolah Tinggi Hukum yang merupakan cikal bakal Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Di Rechts Hooge School, Soegondo hanya mencapai tingkat P (propadeus) atau setara dengan Diploma II. Sebelum menjadi Ketua Panitia Kongres Pemuda II, Soegondo juga mengikuti Kongres Pemuda I yang digelar tahun 1926. Soegondo dipilih menjadi Ketua Panitia Kongres Pemuda II atas persetujuan Mohammad Hatta selaku Ketua Persatuan Pemuda Indonesia di Belanda, organisasi penggagas ide kongres.

Pada waktu semua orang ikut dalam organisasi pemuda, pemuda Sugondo masuk dalam PPI (Persatuan Pemuda Indonesia – dan tidak masuk dalam Jong Java). Pada tahun 1926 saat Konggres Pemuda I, Sugondo ikut serta dalam kegiatan tersebut. Tahun 1928, ketika akan ada Konggres Pemuda II 1928, maka Sugondo terpilih jadi Ketua atas persetujuan Drs. Mohammad Hatta sebagai ketua PPI di Negeri Belanda dan Ir. Sukarno (yang pernah serumah di Surabaya) di Bandung. Mengapa Sugondo terpilih menjadi Ketua Konggres, karena ia adalah anggota PPI (Persatuan Pemuda Indonesia – wadah pemuda independen pada waktu itu dan bukan berdasarkan kesukuan.

Djoko Marsaid

Merupakan wakil ketua saat Kongres Pemuda berlangsung. Djoko sendiri merupakan ketua dari Jong Java. Tidak banyak informasi yang bisa digali dari seorang Djoko Marsaid ini. Namun, namanya tetap tercantum dalam tokoh penting perumusan Sumpah Pemuda.

M. Yamin

M. Yamin adalah seorang penyair yang merintis gaya puisi modern di Indonesia. Pria kelahiran Minangkabau tahun 1903 ini merupakan salah satu tokoh yang mendorong Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dalam perumusan Sumpah Pemuda.

 

Amir Syarifuddin Harahap

Wakil dari Jong Batak Bond.Saat perumusan Sumpah Pemuda, dia kerap menyumbangkan ide-ide brilian. Amir juga merupakan aktivis anti Jepang dan pernah terancam hukuman mati.

 

 

W.R. Supratman

Tentu kita semua pasti mengenal pemuda Indonesia yang satu ini . Ya,….  dialah pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya. Tidak banyak yang tahu bahwa pria bernama lengkap Wage Rudolf Soepratman ini merupakan seorang wartawan dan pengarang. Selain itu, dia juga pandai dalam memainkan biola. Saat penutupan Sumpah Pemuda, dia memainkan sebuah lagu secara instrumental dengan biola (tanpa teks) yang kini dikenal sebagai lagu Indonesia Raya.

S. Mangoensarkoro

Merupakan seorang tokoh penting yang lahir pada tahun 1904. Pria bernama lengkap Sarmidi Mangoensarkoro ini merupakan pejuang di bidang pendidikan. Saat Kongres Pemuda I dan II, dia sering berbicara mengenai pendidikan untuk bangsa Indonesia.

Berkat konsentrasinya yang kuat dalam bidang tersebut, dia dipercaya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun 1949 hingga 1950.

Kartosoewirjo

Pria bernama lengkap Sekarmadji Maridjan Kartosiewirjo ini pada akhirnya merupakan pemimpin gerakan DI/TII yang mendeklarasikan Negara Islam Indonesia. Walau begitu, dia merupakan salah satu tokoh penting dalam pembuatan Sumpah Pemuda 1928. Pria Kelahiran 7 Februari 1905 ini merupakan segelintir putra bangsa yang berhasil mengenyam pendidikan Eropa kala itu. Dia bersekolah di Holland Inlandsche School (HIS) di Rembang.Tempat itu merupakan sekolah elit khusus untuk anak-anak Eropa totok dan Indo (campuran)

Kasman Singodimedjo

Perintis keberadaan Pramuka di Indonesia. Dia juga dikenal sebagai orator yang ulung. Pria kelahiran Purworejo, Jawa Tengah ini pernah menjabat sebagai Jaksa Agung Indonesia dari tahun 1945 hingga 1946.

 

Mohammad Roem

Merupakan aktivis pemuda sekaligus mahasiswa hukum. Rasa nasionalisme dalam dirinya terbakar setelah mendapatkan perlakukan diskriminatif di sekolah Belanda. Akhirnya, pria yang sering disapa Moh.Roem ini bertekad untuk ikut serta dalam perumusan ikrar Sumpah Pemuda.

A.K. Gani

Pria bernama asli Adnan Kapau Gani ini merupakan aktivis pemuda. Dia bergerak dalam organisasi Jong Sumatra Bond.  A.K. Gani lahir di Palembayan, Sumatera Barat, pada tanggal 16 September 1905. Ayahnya adalah seorang guru. Ia menyelesaikan pendidikan awalnya di Bukittinggi pada tahun 1923. Kemudian ia pergi ke Batavia untuk menempuh pendidikan menengah dan mengambil sekolah kedokteran.  Adnan meneruskan ke sekolah tinggi kedokteran STOVIA di Jakarta. Sayangnya, sekolah ini pada 1927 ditutup, sehingga Adnan harus melanjutkan sekolah ke AMS (setingkat SMA zaman Belanda) hingga lulus pada 1928. Setahun kemudian, Adnan masuk Sekolah Tinggi Kedokteran (Geneeskundige Hoge School/GHS) Jakarta, dan baru lulus pada 1940. 

Setelah proklamasi dan selama masa revolusi fisik, Gani memperoleh kekuasaan politik dengan bertugas di kemiliteran. Pada tahun 1945, ia menjadi komisaris PNI dan Residen Sumatera Selatan. Dia juga mengkoordinasikan usaha militer di provinsi itu. Gani menilai Palembang sebuah lokomotif ekonomi yang layak untuk bangsa yang baru merdeka. Dengan alasan, bahwa dengan minyak Indonesia bisa mengumpulkan dukungan internasional. Ia merundingkan penjualan aset-aset pihak asing, termasuk perusahaan milik Belanda Shell. Gani juga terlibat dalam penyelundupan senjata dan perlengkapan militer. Beberapa koneksinya di Singapura, banyak membantu dalam tugas ini.

Sie Kong Liong

Nama pria yang satu ini seringkali tidak disebut saat  membicarakan Sumpah Pemuda. Tapi patut diketahui , apapun alasannya, dia adalah pemilik rumah tempat berlangsungnya Kongres Pemuda II. Rumah itu terletak di Jalan Kramat Raya. Saat ini, rumah itu telah dijadikan sebuah museum. Gedung di jalan Kramat Raya 106 milik Sie Kong Liang ini, menjadi Gedung Sumpah Pemuda pada 20 Mei 1973.

 

/snv- disarikan dari berbagai sumber. 

 

 

KAWIH KARATAGAN PAMUDA INDONESIA

Pernahkah mendengar lagu ini ?
 
 
Laras: Pelog
Surupan: 1=Tugu
Gerakan: Gandang
 

Teks syair sebagai berikut :

Rempug jukung pamuda Indonesia,
Tingkahna waspada ariatna,
Raksa jaring raga sukma,
Kukuh pengkuh kuat nahan cocoba .
 
Lemah cai merdekana abadi,
Urang kabeh pada kagiliran,
Teguh nempuh perjuangan rakyat Indonesia, 
Ngajunjung darajat bangsa .
 
 
Gambar dapat memiliki Hak Cipta
 
Sebuah lagu  dari tanah Pasundan, yang menceritakan begitu bernilainya seorang Pemuda Indonesia. Seorang Pemuda Indonesia  di ilustrasikan dalam syair sebagai seorang pribadi yang selalu siap dan waspada, rela melakukan dan berkorban jiwa raga, teguh dan kukuh melewati segala cobaan ( red: berjuang ).
 
Seorang Pemuda Indonesia melakukan semua ini karena cintanya kepada Tanah Air Indonesia demi menjaga wibawa Bangsa Indonesia.
 
Sebuah lagu dan syair yang sederhana namun memiliki pesan moral yang begitu kuat bagi seluruh Pemuda Indonesia.
Selamat berkarya untuk para Pemuda Indonesia, andalah penerus dari Bangsa yang tercinta ini.
 
 
Gambar dapat memiliki Hak Cipta

” Jadikan dirimu penerus semangat dan mengisi SUMPAH PEMUDA-mu dengan aktifitas yang memberikan contoh dan manfaat bagi bangsa ini, jangan biarkan dirimu menjadi SAMPAH PEMUDA dan PEMUDA SAMPAH bangsa ini  “.

 

Gambar dapat memiliki Hak Cipta

-snv