Aksi Sosial Tanggap Bencana Tsunami Banten

Sebagai bentuk nyata dari semangat kebangsaan dan cinta tanah air, Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia Pengurus Daerah Jawa Barat, akan mengadakan Aksi Sosial tanggap bencana Tsunami di daerah Pandeglang Banten dalam bentuk Bantuan pelayanan Medis dan pemberian kebutuhan dasar bagi para korban terdampak tsunami Selat Sunda.

Kegiatan yang rencananya akan diselenggarakan pada tanggal 8 Januari 2019 ini, mengajak para relawan dan simpatisan yang ingin bergabung dalam bentuk donasi finansial serta tenaga lapangan yang bersedia membantu aktivitas kegiatan.

Kami membuka rekening donasi melalui Bendahara Organisasi PCTA Indonesia, DPD Jawa Barat. dengan nomor rekening BRI 72000 100 746 7539 atas nama Titiek Aisyah. Yang kami buka sampai dengan tanggal 7 Januari 2019.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi sekretariat pengurus PCTA Indonesia DPD Jawa Barat, Jl Raya Tajur no 127 Bogor.

/snv

Mengenal Sosok Dewan Pemrakarsa PCTA Indonesia

Salam Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa

Mungkin belum banyak yang mengenal sosok Dewan Pemrakarsa PCTA Indonesia, kali ini pada sebuah kesempatan yang berbahagia karena Dewan Pemrakarsa PCTA Indonesia, Rama Kyai Muhammad Muchtar Mu’thi berulang tahun yang ke 90 pada tanggal 14 Oktober 2018.

Sebagai keluarga besar PCTA Indonesia, kita semua patut bersyukur kepada Allah Yang Maha Kuasa, hingga di usia Dewan Pemrakarsa yang ke 90 ini, beliau masih bisa mendampingi seluruh aktivitas dari Organisasi PCTA Indonesia.  

Sekilas tentang perjalanan hidup Rama Kyai Muhammad Muchtar Mu’thi semoga bisa memberikan banyak sekali pelajaran bagi kita semua dalam kegiatan berorganisasi dan kehidupan masing masing.

Kyai Muchtar Mu’thi lahir pada ahad kliwon tanggal 28 Robiul Akhir 1347 H atau tanggal 14 Oktober 1928, di Dukuh Losari Rowo, Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang. Kyai Muchtar Mu’thi adalah putra ke-6 dari pasangan Haji Abdul Mu’thi dan Nyai Nasichah. Pasangan haji Abdul Mu’thi dan Nyai Nasichah dikaruniai 11 anak, lima orang putra dan enam orang putri. Sebelumnya, Haji Abdul Mu’thi juga pernah menikah dengan Nyai Marfu’ah. Bersama dengan Nyai Marfu’ah ini, Haji Abdul Mu’thi dikaruniai enam orang anak sehingga jumlah anak dari Haji Abdul Mu’thi yaitu 17 orang.

Semasa kecilnya, anak ke 12 dari Haji Abdul Mu’thi yaitu Kyai Muchtar Mu’thi menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ngelo yang tempatnya berada disebelah selatan Desa Losari. Jarak antara Desa Losari dengan Sekolahan MI Ngelo sekitar 2 KM. Masa belajar di MI Ngelo harus berakhir karena sekolahan tersebut dibubarkan oleh Jepang. Pada sekitar usia 15 tahun, barulah Kyai Muchtar memasuki dunia pendidikan baru yaitu di Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang. Ketika Kyai Muchtar berada di Pesantren Daarul Ulum, kepandaiannya ternyata melebihi dari teman-temannya yang terlebih dahulu nyantri disana. Akan tetapi, karena nyantri bukan termasuk cita-cita atau harapan Kyai Muchtar, maka tampak ketidak sungguhannya selama berada di Pesantren Darul Ulum.

Setelah di Pesantren Darul Ulum selama enam bulan, Kyai Muchtar pindah ke Pesantren Bahrul Ulum, di Tambak Beras, Jombang. Sebagaimana di Pesantren Darul Ulum, Kyai Muchtar tidak ada minat untuk mempelajari pelajaran-pelaran yang diajarkan oleh pesantren. Kyai Muchtar lebih banyak menghabiskan waktu untuk menghafal Al-Quran. Pada saat itu, Kyai Muchtar juga mengaji Kitab Taqrib (Kitab Fiqih) yang ia lakukan setelah sholat isak, mengaji Nahwu Sharaf pada waktu setelah sholat subuh, dan mengaji Tafsir Jalalain kepada Kyai Hamid setelah sholat asar. Selain itu, ia juga belajar mengikuti pengajian Fathul Mu’in (kitab Fiqih) kepada Kyai Masduqi setelah sholat dhuhur dan mengaji Sahih Buhari kepada Kyai Fattah setelah sholat magrib.

Seiring berjalannya waktu, kondisi ekonomi keluarga Abdul Mu’thi (Bapak Kyai Muchtar Mu’thi) semakin sulit dan tidak menentu. Kedua orang tua Kyai Muchtar hampir tidak mampu lagi untuk memenuhi kebutuhan Kyai Muchtar selama di Pesantren. Ketika itu, kakak Kyai Muchtar yang bernama Munaji mengambil alih peran orang tua untuk membiayai kebutuhannya selama di Pesantren. Melihat kondisi ekonomi yang seperti ini, akhirnya dengan berbagai pertimbangan Kyai Muchtar memutuskan untuk berhenti menimba ilmu di Pesantren Tambak Beras. Selanjutnya, ia hanya menjalani hari-harinya berdiam diri di rumah untuk tidak nyatri kemana-mana dan ikut membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Tidak lama setelah keluar dari Pesantren Tambak Beras, Ayah Kyai Muchtar (Haji Abdul Mu’thi) meninggal dunia, tepatnya pada hari jumat Pahing tanggal 21 Syawwal 1367 H atau 27 Agustus 1948.

Sewaktu Haji Abdul Mu’thi wafat, Kyai Muchtar telah berusia 20 tahun yang bisa dibilang relatif dewasa. Kondisi ekonomi keluarga sepeninggal ayahnya sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan pada saat ayahnya masih hidup. Kehidupan ekonomi yang semakin sulit ini, mengharuskan Kyai Muchtar untuk mengadu nasib untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dengan berjualan ikan asin, rokok, terasi dan sabun ke kampung-kampung tetangga.

Selama perjuangan hidupnya yang berjualan dari kampung satu ke kampung yang lain ini, Kyai Muchtar sering beristirahat di Kali Padas. Kali Padas adalah nama sungai yang letaknya berada di tengah hutan Desa Pojok Klitih. Di Tempat ini, Kyai Muchtar melakukan sholat dhuhur dan merenungi kehidupan dirinya.Pada suatu ketika, setelah hujan lebat turun di wilayah tersebut, Kyai Muchtar beristirahat di tepat biasanya dengan membawa barang dagangan berupa ikan asin yang masih sangat banyak, dan garamnya yang banyak larut terkena air. Padahal barang tersebut merupakan bukan miliknya sendiri, melainkan barang titipan dari orang lain.

Dengan kondisi fisik dan psikis yang sangat lelah ini, Kyai muchtar melakuakan mandi dan sholat subuh di Kali Padas. Pada saat itu, terlintas dipikirannya keadaan ekonomi yang ia alami. Begitu sulitnya masalah ekonomi yang dideritanya ini, tidak kunjung ada solusi terbaik didalam hidupnya. Suatu pertanyaan muncul dari pikirannya ; “Mengapa kemiskinan terus hinggap pada diri saya dan keluarga?”. Pertanyaan tersebut dijawab sendiri ; “Ya, mungkin ini karena ketiadaan modal usaha, sehingga bisa mengembangkan dagangan yang ada”. Tidak lama berselang, pertanyaan kedua pun muncul ; “Ya Tuhan, mengapa nasib kami tetap miskin, padahal kami telah berusaha keras masuk kampung keluar kampung, tak kenal siang dan malam untuk menjajakan dagangan ikan asin dan barang-barang yang lain. Bahkan kami untuk menambah keuntungan kami harus pergi dimalam hari ke Alas Ngapus hanya untuk mengambil dagangan garam yang akan kami jual di rumah”.

Setelah itu, Kyai Muchtar mencoba membandingkan keadaan tetangganya yang serba kecukupan dengan dirinya yang sejak kecil mengalami kesusahan. “Mungkinkah orang yang banyak harta akan merasakan sebagaimana yang saya rasakan? Mungkinkah mereka yang didalam kesengsaraan juga akan merasakan kegembiraan sebagaimana yang dialami oleh orang-orang kaya? Adilkah semua itu? Apakah kehidupan manusia selalu diwarnai dengan kesengsaraan ataukah kegembiraan, ataukah keduanya berkumpul menjadi satu? Kalau kesulitanekonomi yang hinggap pada diri kami ini adalah suratan takdir, mengapa takdir terhadap kami berbeda dengan takdir terhadap orang lain?
Pertanyaan pun berlanjut ; “kalau benar bahwa kehidupan ini adalah suratan takdir, betapa kejamnya Allah SWT yang telah mentakdirkan hidup ini harus terus mengalami”. Pertanyaan demi pertanyaan yang terus keluar tersebut akhirnya ia jawab sendiri, “Ya… diterima sajalah, memang ini adalah suratan takdir, jangan terlalu banyak menuntut Tuhan”.

Jawaban sepontanitas tadi belum bisa memecahkan masalah dan memuaskan hatinya, akhirnya pertanyaan-pertanyaan pun kembali muncul ; “Jika demikian, apa artinya hidup ini jika harus sengsara? Mengapa tidak semua orang ditakdirkan Allah SWT bisa menjalani hidup dengan gembira? Bukankah demikian tidak sulit bagi Allah SWT? Atau bahkan sebaliknya, mengapa semua orang tidak ditakdirkan dalam keadaan sengasara saja supaya bisa merasakan hal yang tidak enak?”. Pertanyaan pun tidak berhenti sampai disitu ; “Mengapa semuanya ini terjadi pada diri kami, terjadi pada keluarga kami dan terjadi pada orang lain? Masihkah keberadaan kami yang penuh dengan kesengsaraan ini berguna bagi diri dan orag lain? Masih bergunakah saya hidup di dunia ini? Untuk apakah saya hidup di dunia ini? Kalau memang hidup saya tidak berguna lebih baik cukupkanlah hidup ini sampai disini saja Ya Allah!”.

Dari momen tersebut, Kyai Muchtar mulai menelusuri alam pikirannya untuk menemukan jawaban masalah hidup dan kehidupan. Akhirnya, hatinya bergerak menuju suatu getaran rasa sadar bahwa ilmu yang selama ini ia peroleh hanyalah sia-sia. Setelah itu, muncullah rasa tekad dalam hati untuk meninggalkan tata cara hidup yang sudah dijalani selama ini dan menuju pada satu arah untuk mencari rahasia hidup yang hakiki.

Kyai Muchtar mulai menyadari bahwa bermacam – macam ilmu yang telah dipelajari ternyata hanya berkutat pada hal-hal yang tidak substansial. Ibarat buah, ilmu-ilmu diluar tasawuf itu ibarat kulit sedangkan isinya adalah tashawuf. Kyai Muchtar mulai memelajari lmu tashawuf dimulai dengan keikutsertaannya dalam Tarekat Naqsambandiyah yang dipimpin oleh Kyai Ali Muntoha dan Tarekat Qodiriyah serta Tarekat Akmaliyah. Setelah mengikuti ketiga Tarekat tersebut, kemudian Kyai Muchtar bergabung dengan Tarekat Anfasiyah.

Pada tahun 1951-an Kyai Muchtar melakukan pertualangan dan berkelana menyusuri Pulau Jawa yang dilakukannya mulai dari pesisir pulau Jawa sebelah Utara sampai pesisir Selatan Jawa. Pengembaraan ini dimulai dari daerah Cerme Gresik, kemudian Ujungpangkah, Bejagung, Asmorokondi (Lamongan), terus ke barat sampai di Banten. Perjalanan panjang ini, Kyai Muchtar bertemu dengan banyak Ulama’ khususnya ulama-ulama sufi. Salah satu ulama sufi yang ditemuinya yaitu Syeikh Syu’eb. Kyai Muchtar Mu’thi pertama kali dibaiat oleh Syeikh Syu’eb di Kaseman Banten. Dari Syeikh Syu’eb inilah Kyai Muchtar mendapatkan pelajaran Tarekat Kholwatiyyah dan nantinya berubah menjadi Tarekat Shiddiqiyyah. Kaitan antara Tarekat Kholwatiyyah dengan Tarekat Shiddiqiyyah yaitu kedua tarekat tersebut sama-sama berasal dari Abu Bakar As Shiddiq. Penamaan tarekat selalu berubah-ubah sesuai dengan nama pemimpinnya. Kyai Muchtar Mu’thi pada saat itu mendapat amanat dari Syeikh Syu’eb untuk mengembalikan nama Tarekat Kholwatiyyah menjadi Tarekat Shiddiqiyyah.

Dalam sejarah awal Organisasi PCTA Indonesia, beliau Rama Kyai Muchammad Muchtar Mu’thi memprakarsai untuk menyelenggarakan seminar warisan Mpu Tantular, kitab “SUTASOMA” . Dimana dalam kitab Sutasoma ini termaktub kata-kata yang diabadikan dalam lambang negara Indonesia yaitu, ” Bhinneka Tunggal Ika “,  Berbeda beda tapi satu jua”. 

Kemudian prakarsa ini ditindak lanjuti oleh Pesantren Majma’al Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyah, desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang dan diselenggarakan ” Seminar Sutasoma Dalam Konteks Peningkatan Cinta Tanah Air “, pada Kamis 20 Juli 2006.

Hingga pada tanggal 21 Maret 2010 Organisasi PCTA Indonesia ini, dideklarasikan di Pendopo Agung Trowulan Kabupaten Mojokerto Jawa Timur.

Beberapa wujud kecintaan seorang Rama Kyai Muhammad Muchtar Mu’thi kepada Tanah Air Indonesia ini disampaikan dengan kesungguhan ucapan hatinya, antara lain :

SAYA ORANG INDONESIA BERAGAMA ISLAM
BUKAN ORANG ISLAM DI INDONESIA

Saya tidak rela Indonesia di injak-injak, apapun agamanya.

Bahkan pada saat Perayaan Ulang Tahun PCTA Indonesia yang ke 6 di Taman Mini Indonesia Indah beliau menyampaikan sebuah harapan , bahwa Indonesia bisa menjadi sebuah Taman yang besar, tidak mini terus.  

 

” Selamat Ulang Tahun ke 90 Rama Kyai Tar, kami berdoa kiranya Allah menyertai Rama Kyai selalu dalam kehidupan.”

 

Kami belum dapat memberikan kado terindah untuk Rama Kyai, tapi semoga setiap semangat dan cinta Rama Kyai untuk Indonesia Raya yang selalu ditanamkan di setiap diri kami yang hendak diwujudkan dan selalu diperjuangkan, menjadi kado terindah bagi dan dari Rama Kyai untuk Bangsa dan Negeri Indonesia tercinta ini dengan semangat Persaudaraan, Cinta, serta manunggalnya keimanan dan kemanusiaan dalam setiap insan Indonesia.

 

Sumber :

Daftar Pustaka

  • Nasih, A. Munjin. 2006. Sepenggal Perjalanan Hidup Sang Mursyid : Kyai Muchammad Muchtar Bin Haji Abdul Mu’thi. Jombang: Al Ikhwan
  • Pranoto dkk, 2015. Sejarah Shiddiqiyyah –  Fase Pertama : Kelahiran Kembali Nama Tarekat Shiddiqiyyah. Jakarta : Aspeka Pratama
  • Majalah Al Kautsar edisi 23
  • Mauidhoh Khasanah Sang Mursyid, Bpk Kyai Muchammad Muchtar Mu’thi pada pengajian Khaul Mas Nuzlal Muntashir, 25-Muharrom 1437H / 7 Nopember 2015M
  • Sekretariat Jendral DPP PCTA Indonesia – Profil Dewan Pemrakarsa
  • http://www.setiawanbudi.com/2017/07/jawaban-terkait-masalah-hidup-dan.html

 

 

Bakti Sosial dan Layanan Kesehatan PCTA Indonesia DPD Jawa Barat

ATAS BERKAT RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA

Selesai sudah acara tanggal 9 Oktober 2018 Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia pengurus dan anggota DPD Jawa Barat, memberikan kepada masyarakat di Desa Adat Kasepuhan Ciptagelar – Cisolok Kabupaten Sukabumi layanan Pengobatan dalam kegiatan Bakti Sosial Organisasi PCTA Indonesia bersama Yayasan Peduli Kasih.

Mengambil Tema  Dengan Rasa Cinta Mewujudkan Masyarakat Sehat untuk Indonesia Raya “, kegiatan yang dihadiri oleh Dewan Penyantun Rama Pendeta Andyono bersama Ketua PCTA Indonesia DPD Jawa Barat Bapak Sunardi Anggawijaya beserta seluruh anggota PCTA Indonesia yang hadir ini disambut pada sore menjelang malam tanggal 8 Oktober 2018 dengan tarian kesenian budaya adat Kasepuhan Ciptagelar.

Sebuah kehormatan pada malam hari, setelah perjalanan yang menyita waktu dan kondisi medan lumayan menantang nyali yang berada di sisi Gunung Halimun ini , disambut meriah oleh masyarakat desa adat Kasepuhan Ciptagelar.

Kemeriahan penyambutan ini juga bersamaan dengan adanya kunjungan dari tamu tamu luar negeri yang sedang berada di lokasi desa adat Kasepuhan Ciptagelar.

Pada pagi hari tanggal 9 Oktober 2018, seluruh panitia bersama dengan Kepala Desa Adat Kasepuhan Ciptagelar berkumpul bersama di sebuah ruangan besar yang disebut “IMAH GEDE”, dimana tempat ini dijadikan area bagi kegiatan bakti sosial layanan pengobatan bagi masyarakat.

Sebelum acara dimulai, seluruh masyarakat desa adat bersama dengan pengurus organisasi yang  hadir dan dewan penyantun menyanyikan lagu kebangsaan INDONESIA RAYA, sebagai awal menandai dimulainya kegiatan,  serta doa bersama memohon berkat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, agar penyelenggaraan kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi semua dan sebagai contoh bahwa sebagai bangsa yang besar dengan tradisi kegotong royongan yang tetap dijaga, dapat membantu kepada saudara saudara sebangsa dan setanah air yang membutuhkan bantuan dan sentuhan kebaikan karena semangat “CINTA TANAH AIR” yang ditanamkan. dipupuk dan selalu dirawat dalam setiap pribadi.

Bersama tim kesehatan yang berada di lokasi kegiatan ini, panitia mengarahkan kepada masyarakat yang hendak menggunakan fasilitas layanan kesehatan yang tersedia ini sebaik baiknya. Beberapa dokter yang ikut menyertai kegiatan ini, dokter umum dan dokter gigi semua siap memberikan layanan terbaiknya bagi masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar.

Layanan konsultasi kesehatan

Layanan Apotek

Penyerahan Obat dan suplemen

Layanan Pemeriksaan Gigi

Ketua Adat Kasepuhan Ciptagelar – Abah Ugi menyampaikan rasa terimakasihnya karena masyarakat dapat menerima layanan kesehatan dari Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia bersama Yayasan Peduli Kasih, yang sudah memberikan dan menghantarkan berkat kepada seluruh masyarakat desa.

Semoga aktivitas seperti ini terus berlanjut di kota kota lainnya, dengan dukungan dari seluruh warga PCTA Indonesia DPD Jawa Barat.

Desa Adat Kasepuhan Ciptagelar – Cisolok Kab Sukabumi 8-9 Oktober 2018

Kontributor berita :

  • Andreas Wisnu Srigati
  • David Karlado
  • Lelly

Masihkah ada SUMPAH PEMUDA INDONESIA ?

Gambar dapat memiliki Hak Cipta

Pemuda kurus itu berharap menjadi komponis yang bisa berbuat sesuatu untuk pergerakan Hindia Belanda. Maka dia menggubah lagu dengan biolanya. Lalu dia meminta izin agar lagu Indonesia Raya gubahannya bisa diperdengarkan di Kongres Pemuda II yang digelar di Indonesische Clubgebouw.

Panitia memberi izin. Maka tanggal 28 Oktober 1928, irama Indonesia Raya mengalun dari biola model Amatus miliknya. Pemuda itu bernama Wage Rudolf Soepratman. Untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya diperdengarkan ke hadapan publik dalam sebuah acara resmi.

Banyak versi soal penampilan Soepratman saat membawakan lagu Indonesia Raya. Sebagian bersikeras saat itu hanya ada musik dari biola saja tanpa syair yang dinyanyikan. Tapi ada pula yang berpendapat WR Soepratman juga menyanyikan syair Indonesia Raya. Diceritakan setelah dia memainkan biola. Hadirin berteriak-teriak agar teksnya juga dinyanyikan lengkap.

Gambar dapat memiliki Hak Cipta

“Sebelum putusan kongres dibacakan, terlebih dahulu diperdengarkan lagu Indonesia Raya gubahan WR Soepratman. Dengan semangat dia memperdengarkan lagu yang sama berulang-ulang. Gesekan biolanya kadang diselingi suaranya yang agak parau. Semua peserta Kongres menyambut lagu tersebut dengan sangat antusias. Soepratman, pemuda kurus tadi menerima ucapan selamat dan pelukan hadirin itu dengan berkaca-kaca.”

Dalam peristiwa tersebut, anggota intel Belanda dari Politieke Inlichtingen Dienst tampak terbengong-bengong mendengar lagu itu.

Intel itu kemudian melaporkan soal lagu tersebut pada atasannya. Dia menilai lagu itu terkesan mendayu-dayu, tidak garang dan tidak bagus.

“Lagu itu sendiri dianggap lagu yang tidak tough (tangguh). Intel itu menganggap lagu tersebut contoh buruknya sebuah selera,” 

Tetapi dibalik itu semua, pada tanggal 28 di bulan Oktober tahun 1928 tersebut, ada sebuah momentum yang sangat kuat pada peristiwa ini, yaitu bersatunya seluruh Pemuda Nusantara dan menghasilkan sebuah kesepakatan yang dikenal dengan SUMPAH PEMUDA, sehingga momentum ini menjadi sebuah daya yang sangat hebat dalam perjuangan kebangsaan setelahnya dengan kekuatan pemuda dan sebuah lagu yang diperdengarkan.

Gambar dapat memiliki Hak Cipta

Di era abad 21 saat ini, esensi dari makna Sumpah Pemuda entah dimana keberadaannya, dahulu para Pemuda sebagai kekuatan dari negri ini berusaha menyatukan dan meleburkan diri hingga melahirkan sebuah sumpah yang diakui hingga hari ini ada TULISANNYA, namun dimiskinkan maknanya oleh sebagian manusia yang tinggal di bumi Indonesia, dan celakanya para pemudi pemuda Indonesia saat ini sudah mulai melenakan diri berada dalam situasi tersebut, walaupun tidak semua pemudi pemuda Indonesia seperti yang disebut, dan tetap bertahan untuk menjaga makna Sumpah Pemuda 1928.

Kepentingan kepentingan di semua lini, menyelimuti setiap langkah dan aktivitas para pemudi dan pemuda Indonesia saat ini, dengan warna warni seragam kebanggaannya, percaya diri karena bersembunyi mengatasnamakan kepentingan bangsa tetapi bertindak arogan, kehilangan kesantunannya dan cenderung untuk destruktif.

Inikah potret yang diharapkan para pemudi pemuda Indonesia di tahun 1928 dengan mengucapkan SUMPAH nya bersama sama atas nama pemudi dan pemuda Indonesia ? Mungkin kesedihan dan air mata mereka yang akan kita lihat jika saja mereka masih hidup saat ini. 

 

Gambar dapat memiliki Hak Cipta

Mari para pemudi pemuda Indonesia, kembali ke JATI DIRI PEMUDA INDONESIA yang sesungguhnya , untuk INDONESIA RAYA .