Pikiran, Badan serta Jiwa

Sahabat, banyak manusia mengeluh dalam menjalani kehidupannya, entah apa yang menyebabkan, tetapi pada dasarnya siapapun mereka yang mengalami hal tersebut karena ada sebuah kebahagiaan dalam diri mereka yang pada saat itu belum tercapai sesuai keinginannya. Lalu bagaimana sikap sebagai pribadi yang ingin hadir bagi banyak orang, ketika hal itu dialaminya ? Mungkin beberapa hal berikut dapat menjadi sebuah perenungan dalam perjalanan manusia memaknai dan mengisi perjalanannya.

Mungkin sebagai manusia tak pernah akan menyangka, ketika diri kita tak mendapatkan apa yang diinginkan dalam hidup, ternyata Tuhan tengah menyelamatkan diri kita dari sesuatu yang tidak baik bagi hidup.

Untuk itu ” Bebaskanlah diri kita  dari kebencian, lepaskan kecemasan, hiduplah bersahaja, memberi lebih banyak, berharap lebih sedikit dan tersenyumlah pada siapapun mereka “. Mengapa hal ini patut kita lakukan ? Karena kita tidak perlu takut menghadapi kesulitan sebab setiap kesulitan yang dihadapi akan melahirkan potensi potensi pada diri kita.

Aaah apa mungkin itu semua bisa ? Sebuah pertanyaan yang akan timbul dan dimunculkan dari benak manusia …. Tetapi ingatlah, bahwa sebagai manusia kita diberi dua buah tangan, bersyukurlah kepada Tuhan dengan hal ini, karena satu tanganmu adalah untuk menolong orang lain, dan satu lagi Tuhan berikan untuk menolong dirimu sendiri.  Hhhmmm …. bersyukur ?? Ya bersyukurlah dengan segala apa yang kita miliki.

Imam Ali Zainal Abidin pernah berdoa, ” Tuhan, aku tidak tahu, mana yang harus aku syukuri, rasa sakitku atau kesehatanku. Karena ketika aku sakit, aku berhenti berbuat maksiat dan aku memiliki banyak waktu untuk berdzikir kepada-MU. Aku juga punya waktu untuk bertafakur, merenungkan kehidupanku “. 

Sebuah doa sederhana dengan makna yang begitu mendalam, Tak ada kesalahan kesalahan, tak ada kebetulan kebetulan. Seluruh peristiwa adalah rahmat yang diberikan, agar kita belajar darinya. Begitu jernihnya pikiran saat melantunkan hal ini, karena pikiran bekerja seperti air, agar tetap jernih perlu terus mengalir.

Terjadilah sebuah kebahagiaan yang luar biasa  dalam diri manusia karena kejernihan pikiran, dan rasa syukur yang begitu mendalam, karena ada keyakinan yang kuat inilah yang pada akhirnya kita dimampukan untuk memberi lebih banyak, terbebas dari kebencian dan kecemasan, dengan kedua tangan yang diberikan oleh Tuhan, kita meyakini bahwa di belakangku ada kekuatan yang tak terbatas, di depanku ada kemingkinan tak berakhir, di sekelilingku ada kesempatan tak terhitung, mengapa aku harus diliputi kecemasan ? 🙂

Yuuk, kita tetap menjaga dan merawat pikiran, badan serta jiwa kita ….

/snv

 

Hari Inovasi Indonesia 2018

Photo dapat memiliki Hak Cipta

Selamat Hari Inovasi Indonesia !

Hari ini kita memperingati hari Inovasi Indonesia. Hari ini bertujuan untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya Inovasi dalam kehidupan. karena adanya inovasi tersebut, kehidupan kita bisa terbantu. Anda  bisa bayangkan jika tidak ada telepon, mobil, alat-alat medis ketika ada orang yang sakit, betapa repot dan resikonya dalam menyelamatkan orang tersebut. maka oleh karena itu inovasi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita.

Inovasi adalah suatu kreasi yang baru yang dapat memberi solusi dari masalah-masalah yang ada. Baik setiap perusahaan, organisasi ataupun individu harus memiliki inovasi-inovasi untuk mewujudkan perubahan dan pembaruan untuk menjadi lebih berkembang dan lebih baik.

Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia yang dijiwai menunggalnya keimanan dan kemanusiaan berharap di awal bulan ini, dan di hari spesial ini kita kami semakin menjadi organisasi kebangsaan yang inovatif dan juga bermanfaat bagi banyak orang atas pembaharuan dan hal yang terkini.

Apa harapan mu mengenai Hari Inovasi kali ini ?

 

/snv

 

Cinta Tanah Air menurut Agama di Indonesia

Dalam Pustaka Wedha pada Bab Sradha dan Bakti (Keimanan dan Kewajiban) umat Hindu terdapat empat Catur Guru, yaitu :

  • Guru Swadyaya, yaitu bhakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan;
  • Guru Wisesa, yaitu bhakti kepada negara/pemerintah;
  • Guru Rupaka, yaitu bakti kepada leluhur;
  • Guru Pengajian, yaitu bhakti kepada guru.

Kewajiban bernegara dan beragama dalam HIndu dapat kita sebut dengan Dharmaning Agama (keimanan) dan Dharmaning Negara (kemanusiaan). Dharma Agama merupakan wujud bakti umat Hindu terhadap ke-Maha Kuasaan Tuhan dalam memerankan ajaran agama yang inovatif, kreatif dan integratif, disamping meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan sebagai bangsa Indonesia yang majemuk.

Sedangkan Dharma Negara adalah hak dan kewajiban serta tanggung jawab umat HIndu untuk senantiasa membela, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan, sekaligus mencintai tanah airnya.

Terkait dengan rasa cinta tanah air (nasionalisme) sebagai umat Hindu dalam membangun masa depan bangsa dan negara, adalah upaya yang patut terus menerus dilakukan. Kualitas amal hanya dapat dipahami melalui tingkah laku dan kepribadian seseorang, yang pada hakikatnya mengantarkan manusia kepada sifat kedewataannya (Madawa) dari sifat keraksasaannya (Danawa). Sifat demikian merupakan hakikat dari pengejawantahan Dharma Agama dan Dharma Negara.

Dalam mantra atau sloka disebutkan ” Yauma swargat api gariyasi” yang artinya manusia lebih cinta tumpah darah (tanah air) daripada Surga dan Moksa.

Maka saya orang Indonesia yang beragama Hindu, bukan orang Hindu yang berada di Indonesia. Jadi jika engkau seorang Hindu, jadilah Hindu yang taat, karena ketaatanmu itu maka akan mencintai tanah airmu.

 

Buddha Gautama mendorong para siswa agar memiliki kecintaan terhadap tanah air, dimana mereka lahir dan tinggal untuk tumbuh berkembang. Beliau memberikan pesan: “Para biku, Aku izinkan mempelajari Dharma dengan bahasamu sendiri” (Vin.ii.139). Maka dalam perkembangan Buddha di belahan dunia, mereka memiliki bentuk budaya yang berbeda beda. Buddha merubah perbuatan buruk, menjadi perbuatan baik.

Di Indonesia, sejak kejayaan Sriwijaya hingga sekarang, perkembangan Buddhaisme tidak merubah budaya yang menjadi kekayaan bangsa. Terlihat jelas, peninggalan Buddhaisme masa lampau berupa bangunan candi dengan corak seni dan budaya Nusantara. Semboyan pemersatu bangsa ” Bhinneka Tunggal Ika ” (KS. 139.5). Karya seorang guru Dharma, putra bangsa di zaman kerajaan Majapahit di abad ke 14, ini adalah wujud cinta tanah air.

Demikian juga di era kemerdekaan bangsa Indonesia hingga sekarang, pelopor kebangkitan Agama Buddha Indonesia, mendiang Bhante Jinarakkhita Mahathera, menekankan “cinta tanah air” melalui gerakan agama Buddha Indonesia atau Buddhayana, bukan agama Buddha di Indonesia, dengan ciri kepribadian bangsa Indonesia. Beliau mengedepankan pandangan non sektarian untuk dapat melihat secara obyektif ke-bhinneka-an yang ada di Indonesia; suku, agama, ras dan antara golongan. Mengajak untuk terus menciptakan kerukunan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama dengan senantiasamemiliki perbuatan, ucapan, pikiran yang berdasarkan cinta kasih, saling berbagi, tidak saling menyakiti dan menghargai segala bentuk perbedaan (A.iii.288289). Inilah wujud cinta tanah air yang diajarkan Buddha dari zaman lampau hingga sekarang.

Maka saya orang Indonesia yang beragama Buddha, bukan orang Buddha yang berada di Indonesia. Jadi jika engkau seorang Buddhis, jadilah Buddhis yang taat, karena ketaatanmu itu maka akan mencintai tanah airmu.

 

Di dalam hadist Rasululloh Shallallahu ‘alaihi Wasallam menerangkan bahwa Hubbul Waton Minal Iman yang artinya cinta tanah air bagian dari iman. Sebagai wujud cintaNya Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia, diciptakanlah tanah air sebagai tempat tinggal manusia itu. Sebagai wujud cintanya manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala wajib mencintai apa yang sudah diciptakan untuknya, yaitu tanah air. CintaNya Allah bertemu dengan cintanya manusia pada tanah air.

Dalam Al Qur’an surat ke-49 Al-Hujurat ayat 13 menerangkan bahwa “Hai manusia, sesungguhnya Kami (Allah) menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa bangsa dan bersuku suku supaya kamu saling kenal-mengenal (nilai kebangsaan/kemanusiaan). Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang  paling taqwa (nilai keimanan) di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. ”

Maka saya orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang berada di Indonesia. Jadi jika engkau seorang muslim, jadilah muslim yang taat, karena ketaatanmu itu maka akan mencintai tanah airmu.

 

San Cai, atau Tiga Entitas Utama merupakan ontologi dari filsafat dan agama Khonghucu, bukan bersifat fisik, tetapi bersifat abstrak. Ajaran Khonghucu mengakui bahwa Tuhan sebagai asal-usul alam semesta dan juga mengendalikan sistem pergerakan alam, akan tetapi manusia juga memiliki kehendak bebas untuk menentukan pilihan dan juga mempunyai tanggung jawab atas perbuatannya sendiri.

Dengan ontologi San Cai itu, agama Khonghucu menekankan pada tanggung jawab manusia kepada Tuhan, Sang Pencipta, tanggung jawab kepada sesama manusia, dan kepada bumi tempat hidupnya. Konsep ini dikenal dengan ungkapan Tian Ren He Yi – Tuhan dan manusia bersatu.

Pembagian San Cai adalah :

Di Dao : Jalan Suci Bumi, hubungan manusia dengan alam (tanah air)

Ren Dao : Jalan Suci Manusia, hubungan manusia dengan manusia (kemanusiaan)

Tian Dao : Jalan Suci Tuhan Yang Maha Esa, hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (keimanan).

Agama Khonghucu tidak mengenal bangsa pilihan atau umat yang dilebihkan atas yang lain. Juga tidak ada tanah suci atau tanah perjanjian, seluruh bumi sama sucinya, karena sama-sama diciptakan Tuhan, umat Khonghucu harus setia kepada pemerintah dimana dia menjadi warga negara.

“Tanah air harus dijaga dari generasi ke generasi, tidak boleh ditinggalkan sekedar pertimbangan pribadi, bersiaplah untuk mati, tetapi jangan pergi”. (Bingcu I B: 15:3).

Tidak menyalahkan orang lain. Aku sendiri belum tentu benar. Senantiasa ingat memohon maaf kepada Tuhan. Senantiasa menjaga kesucian dan kebersihan jiwa.

Maka saya orang Indonesia yang beragama Khonghucu, bukan orang Khonghucu yang berada di Indonesia. Jadi jika engkau seorang Khonghucu, jadilah Khonghucu yang taat, karena ketaatanmu itu maka akan mencintai tanah airmu.

 

Dari seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman, yaitu : ” Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri “. Galatia 5:14, Roma 13:9, Yakobus 2:8, Lukas 10:27, Imamat 19:18, Matius 19:19, Matius 22:39. Melalui firman ini Tuhan menunjukkan bahwa pentingnya mengasihi sesama manusia yang di ejawantahkan dalam nilai luhur kemanusiaan dalam keimanan Tuhan.

“Cintai negaramu sendiri; adalah nilai kebajikan Kristiani untuk menjadi patriotik. Tetapi bila patriotisme menjadi nasionalisme yang membawamu melihat kepada orang lain, kepada negara lain dengan acuh tak acuh, cemoohan tanpa kemurahan hati dan keadilan Kristiani, maka itu adalah dosa.” St. Josemaria Escriva.

Dengan kata lain menurut mendiang Rama Soegijapranata sebagai Uskup Katolik Pribumi pertama Indonesia, ” Mencintai tanah air bukanlah sebuah pilihan, bukan sesuatu yang opsional. Mencintai tanah air adalah sebuah kewajiban, sebuah kewajiban yang mengalir berasal dari syukur dan terima kasih. Gereja Katolik mengajarkan bahwa mencintai tanah air merupakan salah satu wujud dari perintah ke 4 dari 10 perintah Allah, sebagaimana tertulis dalam Katekismus, kita harus mengasihi Gereja Katolik, dan dengan demikian juga mengasihi negara dengan segenap hati. Umat katolik memiliki kewajiban untuk melayani dan mencintai orang tuanya, yang telah memberikan kehidupan dan membesarkannya. Demikian juga sebagai “rahim” peradaban dan masyarakat tempat dimana dibesarkan, tanah air layak untuk mendapatkan “pelayanan dan cinta kita”. Sebagai seorang Katolik, kita terikat oleh cinta kasih untuk melayani dan berkarya bagi kebaikan tanah air Indonesia kita.

Maka saya orang Indonesia yang beragama Katolik, bukan orang Katolik yang berada di Indonesia. Jadi jika engkau seorang Katolik sejati, jadilah Katolik yang taat, karena ketaatanmu itu maka akan mencintai tanah airmu.

 

Berdoa dan berjuang bagi bangsa adalah sebuah tindakan untuk menyatakan rasa cinta pada tanah air. Nabi Yeremia dalam Yeremia 29:7 menyerukan, ” Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” Melihat konteks bangsa Israel pada masa itu, yang mengalami pembuangan ke Babel. Tafsiran Alkitab Full Life bahwa penduduk Yehuda menjadi tawanan di Babel dan Firman Tuhan ,menghendaki supaya mereka itu mengusahakan kesejahteraan atau kemakmuran kota dimana Allah menempatkan mereka karena mereka tidak akan kembali ke tanah perjanjian hingga genap 70 tahun. Oleh sebab itu, kita seharusnya berdoa untuk bangsa dan negara Indonesia ini.

Sebagai suatu bangsa dengan sentimental kebangsaan yang tinggi, tentu bangsa Yahudi enggan berdoa bagi kota dimana mereka akan dibuang. Lebih-lebih kota itu adalah milik penguasa kerajaan yang telah menjadikan mereka sebagai tawanan, Akan tetapi, itulah yang Tuhan kehendaki, bahwa kesejahteraan kota tersebut adalah kesejahteraan umat.

Dalam Amsal 14:34 menyerukan ” Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa”, yang artinya baik buruknya suatu bangsa adalah dari perbuatan bangsa itu sendiri.

Maka saya orang Indonesia yang beragama Kristen, bukan orang Kristen yang berada di Indonesia. Jadi jika engkau seorang Kristen, jadilah Kristen yang taat, karena ketaatanmu itu maka akan mencintai tanah airmu.

 

HIDUP BANGUN AKTIF BERJUANG

” Karena apapun agamanya, kita wajib cintai dan jaga tanah air kita Indonesia Raya, dengan sepenuh hati.  Tanpa adanya rasa cinta tanah air, robohlah negara itu ” – Rama Kyai Muchammad Muchtar Mu’thi, Pemrakarsa Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia, yang dijiwai manunggalnya keimanan dan kemanusiaan.

 

 

 

PCTA Indonesia /setjendpp /snv – materi gerakan cinta tanah air