Cap Go Meh Bogor Street Festival 2019 – Sebuah Akulturasi dalam Pawai Budaya Nusantara

Arifin Himawan – Ketua Panitia Pelaksana CGM 2019

Menurut Bapak Arifin Himawan sebagai Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan CGM 2019, yang mana beliau juga sebagai anggota Dewan Pertimbangan Organisasi PCTA Indonesia DPD Jawa Barat, ” …. dalam ranah Budaya Nusantara terjadinya akulturasi budaya adalah sebuah keniscayaan yang tak terelakan. Akulturasi Budaya Nusantara yang damai dan harmonis senantiasa melahirkan kearifan lokal yang mumpuni dan unik, salah satunya terekam dan termanifestasikan dalam sebuah pesta seni budaya yang dikenal dengan istilah Cap Go Meh – Bogor Street Festival (Pesta Rakyat Bogor)”.

Cap Go Meh, juga disebut Yuan Xiaojie, Yuanxi, Yuanye atau Shang Yuanjie dalam bahasa Tionghoa, merupakan puncak acara perayaan Tahun Baru Tionghoa (Tahun Baru Imlek), dimana tradisi perayaan Tahun Baru Imlek biasanya disertai upacara syukuran terhadap berkah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa pada tahun sebelumnya.

Secara etimologis Cap Go dari dialek Hokkian yang bermakna ‘lima belas’, Meh berati ‘malam’. Perayaan ini jatuh pada setiap tanggal 15 bulan pertama dalam Tahun Baru Imlek, dan dilakukan di ruang publik sebagai bentuk ungkapan syukur terhadap berkah yang telah diterima sepanjang tahun.

Menurut tradisi Tionghoa, seusai aktifitas Cap Go Meh, maka berakhirlah seluruh perayaan Tahun Baru Imlek pada tahun tersebut.

TRADISI RATUSAN TAHUN

Di Bogor sendiri, Vihara dimana Dewa Hok Tek atau Dewa Rejeki dimuliakan, terletak di Jl. Suryakencana No. 1, Bogor (dahulu disebut Jl. Perniagaan – Handelstraat), yang berdekatan dengan lokasi perdagangan serta urat nadi ekonomi masyarakat Bogor. Vihara tersebut, yang sekarang bernama Vihara Dhanagun (Hok Tek Bio), menempati bangunan yang merupakan cagar budaya Nasional yang terletak di Kota Bogor dan tercatat sebagai aset Dinas Purbakala di Kota Bogor.

Menurut sejarah, bangunan ini pertama kali didirikan oleh masyarakat Tionghoa Kota Bogor pada abad ke-18, lebih dari 300 tahun yang lalu dan jelas lebih tua daripada usia bangunan Istana Bogor maupun Kebun Raya Bogor yang letaknya sangat berdekatan.

Vihara tersebut, pada zaman kolonial terletak pada sebidang tanah milik negara (eigen– dom) seluas 5.000 m2, namun pada masa kini terdesak oleh berbagai ekses pembangunan kota, seperti pelebaran jalan, perluasan pasar dan lahan parkir, serta pembangunan gedung komersil yang menghilangkan sebagian ciri khas Vihara berbentuk pagoda.

Sejak kepengurusan Yayasan Dhanagun, telah diambil prakarsa penataan kembali bangunan tersebut sebagai cagar budaya, sebuah warisan sejarah yang tidak ternilai bagi masyarakat Bogor.

Bagi pemerhati budaya, kiranya dapat terlihat fenomena bahwa Kelenteng Hok Tek Bio atau disebut juga Vihara Dhanagun memberikan rejeki kepada masyarakat sekitar, bisa dilihat dari lokasi yang menciptakan berbagai jenis perdagangan untuk tumbuh dan berkembang, baik berupa pasar tradisional, pasar modern (dept-store), maupun perdagangan pasar tumpah / pasar malam dan toko besar maupun kecil.

Sesuai dengan budaya Nusantara yang beraneka ragam serta diakui dunia internasional sebagai wilayah bertemunya berbagai kebudayaan, maka tradisi perayaan Cap Go Meh – Bogor Street Fest yang bermakna syukuran, telah mengalami perubahan menjadi pesta rakyat dalam arti yang sesungguhnya, dimana berbagai kebudayaan, telah bercampur baur serta dinikmati berbagai lapisan masyarakat Indonesia.

Sebagaimana sejarah telah menulis, Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya masyarakat etnis Tionghoa kiranya patut berbangga dengan keberanian seorang tokoh Muslim, Alm. Presiden RI ke-4, K.H. Abdurahman Wahid ( Gus Dur ), yang mencanangkan Tahun Baru Imlek sebagai Hari Raya Fakultatif pada tahun 2001 yang kemudian disahkan menjadi Hari Raya Nasional pada saat pemerintahan Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri.

Makna dari pencanangan Tahun Baru Imlek sebagai Hari Raya Nasional ditujukan kepada seluruh rakyat Indonesia agar bersatu, saling menghargai dan menghormati dalam keberagaman budaya serta etnis demi kemajuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Khusus untuk perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor menurut literatur sudah dijelaskan bahwa pada tahun 1850an Tjapgomeh menjadi satu-satunya perayaan paling meriah dan merakyat di Buitenzorg (nama Kota Bogor dahulu kala), dengan demikian paling tidak perayaan rakyat dan bersifat publik ini telah tercatat dalam sejarah modern Kota Bogor sejak 168 tahun yang lalu.

Pada era modern ini, perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor dikenal sebagai CGM Bogor StreetFest ( Cap Go Meh Bogor Street Festival ).

CGM – Cap Go Meh – Pesta Rakyat Bogor yang dimulai 15 hari setelah hari raya Imlek yang pada tahun 2019 ini yang dirayakan pada tanggal 5 Februari. Oleh karena itu, tahun ini Pesta Rakyat Bogor Cap Go Meh 2019 akan diselenggarakan pada tanggal 19 Februari 2019.

Sebelum acara puncak pada tanggal 19 Februari 2019, terdapat beberapa kegiatan sebagai bagian dari kesatuan acara CGM – Bogor StreetFest 2019.

  1. Bakti Sosial, kunjungan ke beberapa Panti Jompo dengan menyajikan hiburan khas Cap Go Meh.
  2. Bazaar tahunan CGM – Bogor StreetFest selama 7 hari di Vihara Dhanagun.
  • Malam Wayang semalam suntuk 18 Februari 2019, yang diisi oleh Wayang Potehi dan Wayang Golek.
  • Parade Kuliner Suryakencana pada saat arak-arakan berlangsung.

Diawali dengan upacara menghormati Tuhan Yang Maha Esa, pada Dewa dan Leluhur; maka dimulailah seremoni pembukaan yang terdiri dari menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Doa Bersama dipimpin oleh 6 pemuka agama, pementasan istimewa kesenian daerah dan Kie Lien; dilanjutkan pembukaan prosesi tradisi dan barongsai serta liong, arak-arakan kesenian tradisional, kesenian modern dan lain lain. Prosesi arak-arakan dari Vihara Dhanagun menyusuri Jalan Suryakencana dan kembali ke Vihara sebelum pukul 22:00 WIB.

Panjang rombongan arak-arakan ini biasanya mencapai 1 kilometer, diikuti oleh ribuan peserta serta disaksikan oleh puluhan ribu masyarakat Kota Bogor juga wisatawan dari berbagai kota bahkan mancanegara.

Semua ini menunjukkan kuatnya akar persahabatan di kalangan masyarakat Kota Bogor yang majemuk namun dapat menerima dan menghargai berbagai perbedaan yang ada.

sumber materi : Sekretariat panitia CGM 2019

/snv

Perayaan Hari Ibu 22 Desember

Menyambut Hari Ibu 22 Desember 2018 ini, Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air  Indonesia Pengurus DPD Jawa Barat, mengadakan acara sambung rasa Perempuan Indonesia yang akan diselenggarakan di Sekretariat DPD Jawa Barat.

Acara yang rencananya didominasi oleh para perempuan dan ibu ini, juga akan diisi dengan berbagai kegiatan, diantaranya Santunan, Olah Raga bersama, beberapa acara Lomba dan juga kajian tentang peranan Perempuan bagi Bangsa dan Negara Indonesia, serta pemantapan tentang organisasi.

Acara yang digagas oleh Bidang Perempuan Organisasi PCTA Indonesia ini, berencana juga untuk mengundang dan mengajak elemen elemen perempuan Indonesia di Kota Bogor untuk hadir memeriahkan kegiatan, kata Ketua Bidang Perempuan PCTA Indonesia DPD Jawa Barat, Ibu Dra. Iswah Khasanah.,Apt.

/snv

Kota Bogor Darurat Narkoba

Senin 22 Oktober 2018 , Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor Ade Sarip Hidayat memaparkan, berdasarkan hasil ekspose yang disampaikan Satuan narkoba Polresta Bogor Kota ada 27 kasus penyalahgunaan narkoba dengan 33 orang tersangka dan barang bukti sitaan berupa sabu 44,82 gram, ganja 147,46 gram, gorila 54,11 gram, alprazolam 250 butir, hexymer 9.421 butir dan tramadol 6.808 butir. Bahkan, selama periode 2015 hingga 2017 data penyalahgunaan narkoba di Kota Bogor grafiknya naik turun.

 

Gambar dapat memiliki Hak Cipta

 

“Dalam kurun tersebut, jumlah kasus narkoba pada tahun 2015 tercatat 185 kasus, turun menjadi 141 kasus pada tahun 2016 dan tahun 2017 naik menjadi 176 kasus,” kata Ade saat menjadi narasumber dalam Pelatihan Integrasi Anti Narkoba dalam Pembelajaran bagi Guru Pendidikan Jasmani Jenjang SMP se-Kota Bogor di Aula SMP Negeri 1 Kota Bogor, jalan Ir. H. Juanda.

Sementara itu, angka kriminalitas jumlah pengedar narkoba yang berhasil ditangkap pada tahun 2015 berjumlah 257 pengedar, di tahun 2016 turun menjadi 183 pengedar dan pada 2017 naik menjadi 211 pengedar. Sementara untuk angka pengguna narkoba, dari tahun 2015 hingga 2017 mengalami penurunan, dari 127 pengguna pada 2015 turun menjadi 63 pengguna pada 2016 dan tahun 2017 turun lagi menjadi 37 pengguna.

Sekda menyebut, saat ini peredaran narkoba menggunakan beragam modus dengan generasi muda sebagai target pasar potensial bagi pengedar. Disamping itu kemajuan sistem informasi dan komunikasi tidak dibarengi dengan pendidikan perilaku, akhlak dan agama. Bahkan kondisi terkini, menempatkan Kota Bogor sebagai kota dengan jumlah penyalahgunaan narkotika terbesar kedua di Jawa Barat.

Melihat kondisi yang ada, mulai dari maraknya peredaran narkoba hingga sasaran yang sudah menyasar pada semua lapisan masyarakat, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor, Fahrudin mengungkapkan keprihatinannya. “Secara nasional itu darurat narkoba,” kata Kadisdik.

Untuk menangkal dan meminimalisir hal tersebut, Disdik Kota Bogor bekerjasama dengan orang tua dan pihak kepolisian, mengingatkan para orang tua untuk lebih berhati-hati dalam mengasuh dan mengawasi anaknya. Lebih jauh, Badan Narkotika Kota (BNK) Bogor melakukan koordinasi dengan kepolisian untuk melakukan tindakan represif bagi peredaran dan penyalahgunaan narkoba, melakukan sosialisasi dan penyuluhan mengenai bahaya narkoba, membentuk Satgas Anti Narkoba dari kalangan pelajar, tokoh agama dan tokoh masyarakat.

“Selain itu saat ini Kota Bogor dalam proses penjajakan kerjasama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) agar dapat hadir di Kota Bogor,” ujar Fahrudin. (Humpro:rabas/adt-SZ)

sumber : https://kotabogor.go.id