Bakti Sosial Cap Go Meh 2019

Mendukung sebuah acara yang bertema Kebhinnekaan adalah sebuah hal yang mutlak bagi PCTA Indonesia. Sebagai pendukung kegiatan dari acara Bogor Street Festival – Cap Go Meh 2019 di Kota Bogor, Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia – yang Dijiwai Manunggalnya Keimanan dan Kemanusiaan ; menghadirkan layanan Bakti Sosial bersama Panitia Acara Cap Go Meh 2019 dan didukung oleh saudara saudara dari Organisasi Shiddiqiyah, Organisasi Pemuda Shiddiqiyah Bogor Raya, Produk Sehat Tentrem dan Yayasan Peduli Kasih, yang mana semua nama tersebut adalah beberapa pendukung dari Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia.

Acara Bakti Sosial ini menghadirkan Layanan Terapi Kesehatan Tongkat Sehat Tentrem dan Layanan Medis Poli Umum serta Poli Gigi. Acara yang dijadwal mulai tanggal 12 Februari 2019 sampai dengan 18 Februari 2019 ini menghadirkan sebuah partisipasi dari perwujudan terhadap Cinta Tanah Air dengan melayani sesama anak bangsa. Kesehatan Jiwa dan Raga adalah salah satu hal yang akan menjadi harta bagi Bangsa Indonesia dalam proses mengisi Kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh Bangsa Indonesia.

Kegiatan yang menyasar kepada seluruh masyarakat kota Bogor ini diharapkan dapat mengenalkan kepada seluruh masyarakat bagaimana mewujudkan sebuah rasa Cinta terhadap Tanah Air. Dengan lingkungan di area bakti sosial yang berpusat di halaman taman depan Vihara Dhanagun Jalan Suryakencana Bogor ini, diharapkan masyarakat dapat merasakan bagaimana pentingnya memupuk rasa persaudaraan di antara sesama anak bangsa, dan nantinya akan menjadi sumber inspirasi untuk menularkan rasa Cinta ini kepada yang lainnya.

Pada kegiatan yang akan diselenggarakan ini, Tim Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia akan membagikan kupon layanan kesehatan untuk poli umum dan poli gigi sebanyak 1000 lembar, yang dapat digunakan oleh siapapun untuk mendapatkan layanan kesehatan di lokasi bakti sosial.

Kupon ini akan dibagikan oleh petugas dari Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia secara langsung 1 minggu sebelum acara berlangsung dan juga dapat menggunakan berkas online dengan menunjukkan kepada petugas di area lokasi dengan mengakses web organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia DPD Jawa Barat.

Kupon Bakti Sosial Medis Layanan Poli Umum dan Poli Gigi, berlaku tanggal 18 Februari 2019

/snv

Cap Go Meh Bogor Street Festival 2019 – Sebuah Akulturasi dalam Pawai Budaya Nusantara

Arifin Himawan – Ketua Panitia Pelaksana CGM 2019

Menurut Bapak Arifin Himawan sebagai Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan CGM 2019, yang mana beliau juga sebagai anggota Dewan Pertimbangan Organisasi PCTA Indonesia DPD Jawa Barat, ” …. dalam ranah Budaya Nusantara terjadinya akulturasi budaya adalah sebuah keniscayaan yang tak terelakan. Akulturasi Budaya Nusantara yang damai dan harmonis senantiasa melahirkan kearifan lokal yang mumpuni dan unik, salah satunya terekam dan termanifestasikan dalam sebuah pesta seni budaya yang dikenal dengan istilah Cap Go Meh – Bogor Street Festival (Pesta Rakyat Bogor)”.

Cap Go Meh, juga disebut Yuan Xiaojie, Yuanxi, Yuanye atau Shang Yuanjie dalam bahasa Tionghoa, merupakan puncak acara perayaan Tahun Baru Tionghoa (Tahun Baru Imlek), dimana tradisi perayaan Tahun Baru Imlek biasanya disertai upacara syukuran terhadap berkah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa pada tahun sebelumnya.

Secara etimologis Cap Go dari dialek Hokkian yang bermakna ‘lima belas’, Meh berati ‘malam’. Perayaan ini jatuh pada setiap tanggal 15 bulan pertama dalam Tahun Baru Imlek, dan dilakukan di ruang publik sebagai bentuk ungkapan syukur terhadap berkah yang telah diterima sepanjang tahun.

Menurut tradisi Tionghoa, seusai aktifitas Cap Go Meh, maka berakhirlah seluruh perayaan Tahun Baru Imlek pada tahun tersebut.

TRADISI RATUSAN TAHUN

Di Bogor sendiri, Vihara dimana Dewa Hok Tek atau Dewa Rejeki dimuliakan, terletak di Jl. Suryakencana No. 1, Bogor (dahulu disebut Jl. Perniagaan – Handelstraat), yang berdekatan dengan lokasi perdagangan serta urat nadi ekonomi masyarakat Bogor. Vihara tersebut, yang sekarang bernama Vihara Dhanagun (Hok Tek Bio), menempati bangunan yang merupakan cagar budaya Nasional yang terletak di Kota Bogor dan tercatat sebagai aset Dinas Purbakala di Kota Bogor.

Menurut sejarah, bangunan ini pertama kali didirikan oleh masyarakat Tionghoa Kota Bogor pada abad ke-18, lebih dari 300 tahun yang lalu dan jelas lebih tua daripada usia bangunan Istana Bogor maupun Kebun Raya Bogor yang letaknya sangat berdekatan.

Vihara tersebut, pada zaman kolonial terletak pada sebidang tanah milik negara (eigen– dom) seluas 5.000 m2, namun pada masa kini terdesak oleh berbagai ekses pembangunan kota, seperti pelebaran jalan, perluasan pasar dan lahan parkir, serta pembangunan gedung komersil yang menghilangkan sebagian ciri khas Vihara berbentuk pagoda.

Sejak kepengurusan Yayasan Dhanagun, telah diambil prakarsa penataan kembali bangunan tersebut sebagai cagar budaya, sebuah warisan sejarah yang tidak ternilai bagi masyarakat Bogor.

Bagi pemerhati budaya, kiranya dapat terlihat fenomena bahwa Kelenteng Hok Tek Bio atau disebut juga Vihara Dhanagun memberikan rejeki kepada masyarakat sekitar, bisa dilihat dari lokasi yang menciptakan berbagai jenis perdagangan untuk tumbuh dan berkembang, baik berupa pasar tradisional, pasar modern (dept-store), maupun perdagangan pasar tumpah / pasar malam dan toko besar maupun kecil.

Sesuai dengan budaya Nusantara yang beraneka ragam serta diakui dunia internasional sebagai wilayah bertemunya berbagai kebudayaan, maka tradisi perayaan Cap Go Meh – Bogor Street Fest yang bermakna syukuran, telah mengalami perubahan menjadi pesta rakyat dalam arti yang sesungguhnya, dimana berbagai kebudayaan, telah bercampur baur serta dinikmati berbagai lapisan masyarakat Indonesia.

Sebagaimana sejarah telah menulis, Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya masyarakat etnis Tionghoa kiranya patut berbangga dengan keberanian seorang tokoh Muslim, Alm. Presiden RI ke-4, K.H. Abdurahman Wahid ( Gus Dur ), yang mencanangkan Tahun Baru Imlek sebagai Hari Raya Fakultatif pada tahun 2001 yang kemudian disahkan menjadi Hari Raya Nasional pada saat pemerintahan Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri.

Makna dari pencanangan Tahun Baru Imlek sebagai Hari Raya Nasional ditujukan kepada seluruh rakyat Indonesia agar bersatu, saling menghargai dan menghormati dalam keberagaman budaya serta etnis demi kemajuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Khusus untuk perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor menurut literatur sudah dijelaskan bahwa pada tahun 1850an Tjapgomeh menjadi satu-satunya perayaan paling meriah dan merakyat di Buitenzorg (nama Kota Bogor dahulu kala), dengan demikian paling tidak perayaan rakyat dan bersifat publik ini telah tercatat dalam sejarah modern Kota Bogor sejak 168 tahun yang lalu.

Pada era modern ini, perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor dikenal sebagai CGM Bogor StreetFest ( Cap Go Meh Bogor Street Festival ).

CGM – Cap Go Meh – Pesta Rakyat Bogor yang dimulai 15 hari setelah hari raya Imlek yang pada tahun 2019 ini yang dirayakan pada tanggal 5 Februari. Oleh karena itu, tahun ini Pesta Rakyat Bogor Cap Go Meh 2019 akan diselenggarakan pada tanggal 19 Februari 2019.

Sebelum acara puncak pada tanggal 19 Februari 2019, terdapat beberapa kegiatan sebagai bagian dari kesatuan acara CGM – Bogor StreetFest 2019.

  1. Bakti Sosial, kunjungan ke beberapa Panti Jompo dengan menyajikan hiburan khas Cap Go Meh.
  2. Bazaar tahunan CGM – Bogor StreetFest selama 7 hari di Vihara Dhanagun.
  • Malam Wayang semalam suntuk 18 Februari 2019, yang diisi oleh Wayang Potehi dan Wayang Golek.
  • Parade Kuliner Suryakencana pada saat arak-arakan berlangsung.

Diawali dengan upacara menghormati Tuhan Yang Maha Esa, pada Dewa dan Leluhur; maka dimulailah seremoni pembukaan yang terdiri dari menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Doa Bersama dipimpin oleh 6 pemuka agama, pementasan istimewa kesenian daerah dan Kie Lien; dilanjutkan pembukaan prosesi tradisi dan barongsai serta liong, arak-arakan kesenian tradisional, kesenian modern dan lain lain. Prosesi arak-arakan dari Vihara Dhanagun menyusuri Jalan Suryakencana dan kembali ke Vihara sebelum pukul 22:00 WIB.

Panjang rombongan arak-arakan ini biasanya mencapai 1 kilometer, diikuti oleh ribuan peserta serta disaksikan oleh puluhan ribu masyarakat Kota Bogor juga wisatawan dari berbagai kota bahkan mancanegara.

Semua ini menunjukkan kuatnya akar persahabatan di kalangan masyarakat Kota Bogor yang majemuk namun dapat menerima dan menghargai berbagai perbedaan yang ada.

sumber materi : Sekretariat panitia CGM 2019

/snv

Maria Walanda Maramis

1 Desember – Maria Walanda Maramis, wanita Minahasa sang tokoh pergerakan Indonesia yang menolak disebut sebagai Kartini dari Minahasa, namun mengakui bahwa apa yang dilakukannya adalah terinspirasi dari Ibu Kartini, dan melanjutkan apa yang telah Kartini lakukan pada masanya. 

Maria Josephine Catherine Maramis ( lahir di Kema, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, 1 Desember 1872 – meninggal di Maumbi, Kalawat, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, 22 April 1924 pada umur 51 tahun ), atau yang lebih dikenal sebagai Maria Walanda Maramis, adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia karena usahanya untuk mengembangkan keadaan wanita di Indonesia pada permulaan abad ke-20. 

Maria lahir di Kema, sebuah desa kecil yang sekarang berada di kabupaten Minahasa Utara, Kecamatan Kema (hasil pemekaran Kecamatan Kauditan)provinsi Sulawesi Utara. Orang tuanya adalah Maramis dan Sarah Rotinsulu. Dia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara di mana kakak perempuannya bernama Antje dan kakak laki-lakinya bernama Andries. Andries Maramis adalah ayah dari Alexander Andries Maramis yang terlibat dalam pergolakan kemerdekaan Indonesia dan menjadi menteri dan duta besar dalam pemerintahan Indonesia pada mulanya.

Maramis menjadi yatim piatu pada saat ia berumur enam tahun karena kedua orang tuanya jatuh sakit dan meninggal dalam waktu yang singkat. Paman Maramis yaitu Rotinsulu yang waktu itu adalah Hukum Besar di Maumbi membawa Maramis dan saudara-saudaranya ke Maumbi dan mengasuh dan membesarkan mereka di sana. Maramis beserta kakak perempuannya dimasukkan ke Sekolah Melayu di Maumbi. Sekolah itu mengajar ilmu dasar seperti membaca dan menulis serta sedikit ilmu pengetahuan dan sejarah. Ini adalah satu-satunya pendidikan resmi yang diterima oleh Maramis dan kakak perempuannya karena perempuan pada saat itu diharapkan untuk menikah dan mengasuh keluarga.

Setelah pindah ke Manado, Maramis mulai menulis opini di surat kabar setempat yang bernama Tjahaja Siang. Dalam artikel-artikelnya, ia menunjukkan pentingnya peranan ibu dalam keluarga di mana adalah kewajiban ibu untuk mengasuh dan menjaga kesehatan anggota-anggota keluarganya. Ibu juga yang memberi pendidikan awal kepada anak-anaknya.

Menyadari wanita-wanita muda saat itu perlu dilengkapi dengan bekal untuk menjalani peranan mereka sebagai pengasuh keluarga, Maramis bersama beberapa orang lain mendirikan Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunannya (PIKAT) pada tanggal 8 Juli 1917. Tujuan organisasi ini adalah untuk mendidik kaum wanita yang tamat sekolah dasar dalam hal-hal rumah tangga seperti memasak, menjahit, merawat bayi, pekerjaan tangan, dan sebagainya.

Melalui kepemimpinan Maramis di dalam PIKAT, organisasi ini bertumbuh dengan dimulainya cabang-cabang di Minahasa, seperti di Maumbi, Tondano, dan Motoling. Cabang-cabang di Jawa juga terbentuk oleh ibu-ibu di sana seperti di Batavia, Bogor, Bandung, Cimahi, Magelang, dan Surabaya. Pada tanggal 2 Juni 1918, PIKAT membuka sekolah Manado. Maramis terus aktif dalam PIKAT sampai pada meninggalnya pada tanggal 22 April 1924.

Untuk menghargai peranannya dalam pengembangan keadaan wanita di Indonesia, Maria Walanda Maramis mendapat gelar Pahlawan Pergerakan Nasional dari pemerintah Indonesia pada tanggal 20 Mei 1969.

//id.wikipedia-snv

 

Pikiran, Badan serta Jiwa

Sahabat, banyak manusia mengeluh dalam menjalani kehidupannya, entah apa yang menyebabkan, tetapi pada dasarnya siapapun mereka yang mengalami hal tersebut karena ada sebuah kebahagiaan dalam diri mereka yang pada saat itu belum tercapai sesuai keinginannya. Lalu bagaimana sikap sebagai pribadi yang ingin hadir bagi banyak orang, ketika hal itu dialaminya ? Mungkin beberapa hal berikut dapat menjadi sebuah perenungan dalam perjalanan manusia memaknai dan mengisi perjalanannya.

Mungkin sebagai manusia tak pernah akan menyangka, ketika diri kita tak mendapatkan apa yang diinginkan dalam hidup, ternyata Tuhan tengah menyelamatkan diri kita dari sesuatu yang tidak baik bagi hidup.

Untuk itu ” Bebaskanlah diri kita  dari kebencian, lepaskan kecemasan, hiduplah bersahaja, memberi lebih banyak, berharap lebih sedikit dan tersenyumlah pada siapapun mereka “. Mengapa hal ini patut kita lakukan ? Karena kita tidak perlu takut menghadapi kesulitan sebab setiap kesulitan yang dihadapi akan melahirkan potensi potensi pada diri kita.

Aaah apa mungkin itu semua bisa ? Sebuah pertanyaan yang akan timbul dan dimunculkan dari benak manusia …. Tetapi ingatlah, bahwa sebagai manusia kita diberi dua buah tangan, bersyukurlah kepada Tuhan dengan hal ini, karena satu tanganmu adalah untuk menolong orang lain, dan satu lagi Tuhan berikan untuk menolong dirimu sendiri.  Hhhmmm …. bersyukur ?? Ya bersyukurlah dengan segala apa yang kita miliki.

Imam Ali Zainal Abidin pernah berdoa, ” Tuhan, aku tidak tahu, mana yang harus aku syukuri, rasa sakitku atau kesehatanku. Karena ketika aku sakit, aku berhenti berbuat maksiat dan aku memiliki banyak waktu untuk berdzikir kepada-MU. Aku juga punya waktu untuk bertafakur, merenungkan kehidupanku “. 

Sebuah doa sederhana dengan makna yang begitu mendalam, Tak ada kesalahan kesalahan, tak ada kebetulan kebetulan. Seluruh peristiwa adalah rahmat yang diberikan, agar kita belajar darinya. Begitu jernihnya pikiran saat melantunkan hal ini, karena pikiran bekerja seperti air, agar tetap jernih perlu terus mengalir.

Terjadilah sebuah kebahagiaan yang luar biasa  dalam diri manusia karena kejernihan pikiran, dan rasa syukur yang begitu mendalam, karena ada keyakinan yang kuat inilah yang pada akhirnya kita dimampukan untuk memberi lebih banyak, terbebas dari kebencian dan kecemasan, dengan kedua tangan yang diberikan oleh Tuhan, kita meyakini bahwa di belakangku ada kekuatan yang tak terbatas, di depanku ada kemingkinan tak berakhir, di sekelilingku ada kesempatan tak terhitung, mengapa aku harus diliputi kecemasan ? 🙂

Yuuk, kita tetap menjaga dan merawat pikiran, badan serta jiwa kita ….

/snv

 

Garudaku Terluka

Gambar dapat memiliki Hak Cipta

 

Garuda Pancasila, akulah pendukungmu 
Patriot Proklamasi sedia berkorban untukmu 
Pancasila dasar negara
Rakyat adil makmur sentosa 
Pribadi bangsaku:
 Ayo maju-maju, ayo maju-maju, ayo maju-maju

Syair di atas merupakan syair sebuah lagu yang digubah sangat indah sebagai sumbangsih seorang pemuda bernama Sudharnoto pada zaman kemerdekaan. Lagu ini dibuat sebagai “Mars Pancasila”, yang kemudian lebih dikenal dengan judul “Garuda Pancasila”. Syair yang demikian singkat ini mengandung pesan penting tentang keberadaan bangsa Indonesia yang dilambangkan dengan burung Garuda Pancasila. Dalam syair ini, pesan kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang turut serta dalam memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan dinyatakan:

“Akulah Pendukungmu!
Aku bersedia berkorban untukmu!
Aku mau melihat Indonesiaku maju, maju, maju dan hanya maju!”

Garudaku pun mulai maju, terbang mengepakkan sayap di langit yang biru, memperlihatkan kebebasannya, kekuatannya, dan kemegahannya sebagai bangsa mandiri. Garudaku maju dengan ambisi bersama, pribadi-pribadi yang bersatu, yang mengedepankan pengorbanan diri dan sebuah hasrat besar untuk kemajuan bangsa.

Nilai-nilai yang dibawa terbang tinggi oleh Garudaku ialah Ketuhanan Yang Mahaesa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Garudaku terbang bersama harapan bangsa, menjadi bangsa yang besar, adil, makmur dan sentosa serta mampu berdiri bersama jajaran bangsa-bangsa.

Akan tetapi, harapan yang terbang makin tinggi sebagai sebuah bangsa yang maju, aman, sentosa, adil dan makmur sesaat terhenti ketika kulihat Garudaku terluka. Garudaku terluka oleh tangan-tangan besi yang mengedepankan kepentingan diri di atas kepentingan rakyat. Garudaku terluka oleh hati yang dingin akibat paradigma berpikir keyakinan diri yang paling benar. Garudaku terluka oleh kepala batu yang menyusun strategi untuk memecah-belah persatuan demi tercipta ambisi dan tujuan pribadi. Garudaku terluka saat nilai-nilai yang dibawanya sengaja dipudarkan, perlahan dilupakan, bahkan sempat ingin digantikan. Garudaku terluka oleh ketidakpedulian dan sikap berpangku tangan. Garuda yang terluka kini tak dapat terbang tinggi.

Siapakah yang sanggup memulihkan Garudaku yang terluka? Pertanyaan ini seperti menjawab pertanyaan mengenai siapakah yang sanggup memulihkan luka seorang istri yang disakiti suami. Luka seorang istri hanya sanggup dipulihkan oleh perkataan dan tindakan maaf yang didasari oleh cinta tulus sang suami. Dari manakah asalnya cinta tulus dan pemulihan berasal? Dari Sang Pencipta manusia, Allah Yang Mahaesa. Demikian juga dengan luka Garudaku. Lebih cepat pulih oleh insan-insan yang secara aktif melukai Garudaku dan insan-insan pasif yang tak memandang hadirnya Garudaku. Itu berarti engkau, aku, dan mereka. Luka Garudaku dapat segera pulih oleh kita. Dari mana sumber pemulihan terjadi? Dari Dia, Sang Pencipta bangsa kita, Tuhan Yang Mahaesa.

Menyadari adanya luka membuat Garudaku berhenti sejenak. Berhenti bukan untuk menyerah. Berhenti untuk berefleksi. Berhenti untuk tertunduk pada sang ilahi. Berhenti dari kebanggaan dan kesombongan diri. Berhenti dari arah dan tujuan yang tak pasti. Berhenti untuk melihat, apakah masih ada yang tersisa bersamaku? Berhenti untuk terdiam sejenak sebelum terbang lebih tinggi. Berhenti untuk kita bisa melihat dengan jelas apa yang dicengkeram dengan kuat oleh kaki Garudaku. Sebuah tulisan: “BHINEKA TUNGGAL IKA.” Berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Garudaku ingin kita bisa melihat dan menyadari dengan jelas, bahwa kita berasal dari beragam suku, agama, kepercayaan, dan bahasa yang berbeda. Tapi, perbedaan itu tak pernah dapat memisahkan kita sampai kapan pun. Perbedaan itu indah. Perbedaan itu kekayaan bangsa kita. Perbedaan itu yang menyatukan bangsa kita.

Jangan lukai lagi Garudaku, Garudamu, Garuda kita. Mari ambil sikap meringankan, dan bukan menambah, luka yang ada. Mengobati, dan bukan menyakiti, luka yang ada. Membalut, dan bukan membongkar makin dalam, luka yang ada. Selama masih ada cinta tulus yang lahir dari sumber kasih abadi, luka apa pun dan seberapapun besar luka itu akan terobati. Selama masih ada pribadi-pribadi yang memiliki cinta untuk bangsa Indonesia, harapan bangsa masih besar. Selama masih ada cinta, di sana ada pemulihan. Selama masih ada cinta, pasti ada pengorbanan. Selama ada cinta, masih ada pengharapan persatuan bangsa.

 

dia/selfy antasia