Bakti Sosial Cap Go Meh 2019

Mendukung sebuah acara yang bertema Kebhinnekaan adalah sebuah hal yang mutlak bagi PCTA Indonesia. Sebagai pendukung kegiatan dari acara Bogor Street Festival – Cap Go Meh 2019 di Kota Bogor, Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia – yang Dijiwai Manunggalnya Keimanan dan Kemanusiaan ; menghadirkan layanan Bakti Sosial bersama Panitia Acara Cap Go Meh 2019 dan didukung oleh saudara saudara dari Organisasi Shiddiqiyah, Organisasi Pemuda Shiddiqiyah Bogor Raya, Produk Sehat Tentrem dan Yayasan Peduli Kasih, yang mana semua nama tersebut adalah beberapa pendukung dari Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia.

Acara Bakti Sosial ini menghadirkan Layanan Terapi Kesehatan Tongkat Sehat Tentrem dan Layanan Medis Poli Umum serta Poli Gigi. Acara yang dijadwal mulai tanggal 12 Februari 2019 sampai dengan 18 Februari 2019 ini menghadirkan sebuah partisipasi dari perwujudan terhadap Cinta Tanah Air dengan melayani sesama anak bangsa. Kesehatan Jiwa dan Raga adalah salah satu hal yang akan menjadi harta bagi Bangsa Indonesia dalam proses mengisi Kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh Bangsa Indonesia.

Kegiatan yang menyasar kepada seluruh masyarakat kota Bogor ini diharapkan dapat mengenalkan kepada seluruh masyarakat bagaimana mewujudkan sebuah rasa Cinta terhadap Tanah Air. Dengan lingkungan di area bakti sosial yang berpusat di halaman taman depan Vihara Dhanagun Jalan Suryakencana Bogor ini, diharapkan masyarakat dapat merasakan bagaimana pentingnya memupuk rasa persaudaraan di antara sesama anak bangsa, dan nantinya akan menjadi sumber inspirasi untuk menularkan rasa Cinta ini kepada yang lainnya.

Pada kegiatan yang akan diselenggarakan ini, Tim Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia akan membagikan kupon layanan kesehatan untuk poli umum dan poli gigi sebanyak 1000 lembar, yang dapat digunakan oleh siapapun untuk mendapatkan layanan kesehatan di lokasi bakti sosial.

Kupon ini akan dibagikan oleh petugas dari Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia secara langsung 1 minggu sebelum acara berlangsung dan juga dapat menggunakan berkas online dengan menunjukkan kepada petugas di area lokasi dengan mengakses web organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia DPD Jawa Barat.

Kupon Bakti Sosial Medis Layanan Poli Umum dan Poli Gigi, berlaku tanggal 18 Februari 2019

/snv

Cap Go Meh Bogor Street Festival 2019 – Sebuah Akulturasi dalam Pawai Budaya Nusantara

Arifin Himawan – Ketua Panitia Pelaksana CGM 2019

Menurut Bapak Arifin Himawan sebagai Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan CGM 2019, yang mana beliau juga sebagai anggota Dewan Pertimbangan Organisasi PCTA Indonesia DPD Jawa Barat, ” …. dalam ranah Budaya Nusantara terjadinya akulturasi budaya adalah sebuah keniscayaan yang tak terelakan. Akulturasi Budaya Nusantara yang damai dan harmonis senantiasa melahirkan kearifan lokal yang mumpuni dan unik, salah satunya terekam dan termanifestasikan dalam sebuah pesta seni budaya yang dikenal dengan istilah Cap Go Meh – Bogor Street Festival (Pesta Rakyat Bogor)”.

Cap Go Meh, juga disebut Yuan Xiaojie, Yuanxi, Yuanye atau Shang Yuanjie dalam bahasa Tionghoa, merupakan puncak acara perayaan Tahun Baru Tionghoa (Tahun Baru Imlek), dimana tradisi perayaan Tahun Baru Imlek biasanya disertai upacara syukuran terhadap berkah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa pada tahun sebelumnya.

Secara etimologis Cap Go dari dialek Hokkian yang bermakna ‘lima belas’, Meh berati ‘malam’. Perayaan ini jatuh pada setiap tanggal 15 bulan pertama dalam Tahun Baru Imlek, dan dilakukan di ruang publik sebagai bentuk ungkapan syukur terhadap berkah yang telah diterima sepanjang tahun.

Menurut tradisi Tionghoa, seusai aktifitas Cap Go Meh, maka berakhirlah seluruh perayaan Tahun Baru Imlek pada tahun tersebut.

TRADISI RATUSAN TAHUN

Di Bogor sendiri, Vihara dimana Dewa Hok Tek atau Dewa Rejeki dimuliakan, terletak di Jl. Suryakencana No. 1, Bogor (dahulu disebut Jl. Perniagaan – Handelstraat), yang berdekatan dengan lokasi perdagangan serta urat nadi ekonomi masyarakat Bogor. Vihara tersebut, yang sekarang bernama Vihara Dhanagun (Hok Tek Bio), menempati bangunan yang merupakan cagar budaya Nasional yang terletak di Kota Bogor dan tercatat sebagai aset Dinas Purbakala di Kota Bogor.

Menurut sejarah, bangunan ini pertama kali didirikan oleh masyarakat Tionghoa Kota Bogor pada abad ke-18, lebih dari 300 tahun yang lalu dan jelas lebih tua daripada usia bangunan Istana Bogor maupun Kebun Raya Bogor yang letaknya sangat berdekatan.

Vihara tersebut, pada zaman kolonial terletak pada sebidang tanah milik negara (eigen– dom) seluas 5.000 m2, namun pada masa kini terdesak oleh berbagai ekses pembangunan kota, seperti pelebaran jalan, perluasan pasar dan lahan parkir, serta pembangunan gedung komersil yang menghilangkan sebagian ciri khas Vihara berbentuk pagoda.

Sejak kepengurusan Yayasan Dhanagun, telah diambil prakarsa penataan kembali bangunan tersebut sebagai cagar budaya, sebuah warisan sejarah yang tidak ternilai bagi masyarakat Bogor.

Bagi pemerhati budaya, kiranya dapat terlihat fenomena bahwa Kelenteng Hok Tek Bio atau disebut juga Vihara Dhanagun memberikan rejeki kepada masyarakat sekitar, bisa dilihat dari lokasi yang menciptakan berbagai jenis perdagangan untuk tumbuh dan berkembang, baik berupa pasar tradisional, pasar modern (dept-store), maupun perdagangan pasar tumpah / pasar malam dan toko besar maupun kecil.

Sesuai dengan budaya Nusantara yang beraneka ragam serta diakui dunia internasional sebagai wilayah bertemunya berbagai kebudayaan, maka tradisi perayaan Cap Go Meh – Bogor Street Fest yang bermakna syukuran, telah mengalami perubahan menjadi pesta rakyat dalam arti yang sesungguhnya, dimana berbagai kebudayaan, telah bercampur baur serta dinikmati berbagai lapisan masyarakat Indonesia.

Sebagaimana sejarah telah menulis, Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya masyarakat etnis Tionghoa kiranya patut berbangga dengan keberanian seorang tokoh Muslim, Alm. Presiden RI ke-4, K.H. Abdurahman Wahid ( Gus Dur ), yang mencanangkan Tahun Baru Imlek sebagai Hari Raya Fakultatif pada tahun 2001 yang kemudian disahkan menjadi Hari Raya Nasional pada saat pemerintahan Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri.

Makna dari pencanangan Tahun Baru Imlek sebagai Hari Raya Nasional ditujukan kepada seluruh rakyat Indonesia agar bersatu, saling menghargai dan menghormati dalam keberagaman budaya serta etnis demi kemajuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Khusus untuk perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor menurut literatur sudah dijelaskan bahwa pada tahun 1850an Tjapgomeh menjadi satu-satunya perayaan paling meriah dan merakyat di Buitenzorg (nama Kota Bogor dahulu kala), dengan demikian paling tidak perayaan rakyat dan bersifat publik ini telah tercatat dalam sejarah modern Kota Bogor sejak 168 tahun yang lalu.

Pada era modern ini, perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor dikenal sebagai CGM Bogor StreetFest ( Cap Go Meh Bogor Street Festival ).

CGM – Cap Go Meh – Pesta Rakyat Bogor yang dimulai 15 hari setelah hari raya Imlek yang pada tahun 2019 ini yang dirayakan pada tanggal 5 Februari. Oleh karena itu, tahun ini Pesta Rakyat Bogor Cap Go Meh 2019 akan diselenggarakan pada tanggal 19 Februari 2019.

Sebelum acara puncak pada tanggal 19 Februari 2019, terdapat beberapa kegiatan sebagai bagian dari kesatuan acara CGM – Bogor StreetFest 2019.

  1. Bakti Sosial, kunjungan ke beberapa Panti Jompo dengan menyajikan hiburan khas Cap Go Meh.
  2. Bazaar tahunan CGM – Bogor StreetFest selama 7 hari di Vihara Dhanagun.
  • Malam Wayang semalam suntuk 18 Februari 2019, yang diisi oleh Wayang Potehi dan Wayang Golek.
  • Parade Kuliner Suryakencana pada saat arak-arakan berlangsung.

Diawali dengan upacara menghormati Tuhan Yang Maha Esa, pada Dewa dan Leluhur; maka dimulailah seremoni pembukaan yang terdiri dari menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Doa Bersama dipimpin oleh 6 pemuka agama, pementasan istimewa kesenian daerah dan Kie Lien; dilanjutkan pembukaan prosesi tradisi dan barongsai serta liong, arak-arakan kesenian tradisional, kesenian modern dan lain lain. Prosesi arak-arakan dari Vihara Dhanagun menyusuri Jalan Suryakencana dan kembali ke Vihara sebelum pukul 22:00 WIB.

Panjang rombongan arak-arakan ini biasanya mencapai 1 kilometer, diikuti oleh ribuan peserta serta disaksikan oleh puluhan ribu masyarakat Kota Bogor juga wisatawan dari berbagai kota bahkan mancanegara.

Semua ini menunjukkan kuatnya akar persahabatan di kalangan masyarakat Kota Bogor yang majemuk namun dapat menerima dan menghargai berbagai perbedaan yang ada.

sumber materi : Sekretariat panitia CGM 2019

/snv

Pikiran, Badan serta Jiwa

Sahabat, banyak manusia mengeluh dalam menjalani kehidupannya, entah apa yang menyebabkan, tetapi pada dasarnya siapapun mereka yang mengalami hal tersebut karena ada sebuah kebahagiaan dalam diri mereka yang pada saat itu belum tercapai sesuai keinginannya. Lalu bagaimana sikap sebagai pribadi yang ingin hadir bagi banyak orang, ketika hal itu dialaminya ? Mungkin beberapa hal berikut dapat menjadi sebuah perenungan dalam perjalanan manusia memaknai dan mengisi perjalanannya.

Mungkin sebagai manusia tak pernah akan menyangka, ketika diri kita tak mendapatkan apa yang diinginkan dalam hidup, ternyata Tuhan tengah menyelamatkan diri kita dari sesuatu yang tidak baik bagi hidup.

Untuk itu ” Bebaskanlah diri kita  dari kebencian, lepaskan kecemasan, hiduplah bersahaja, memberi lebih banyak, berharap lebih sedikit dan tersenyumlah pada siapapun mereka “. Mengapa hal ini patut kita lakukan ? Karena kita tidak perlu takut menghadapi kesulitan sebab setiap kesulitan yang dihadapi akan melahirkan potensi potensi pada diri kita.

Aaah apa mungkin itu semua bisa ? Sebuah pertanyaan yang akan timbul dan dimunculkan dari benak manusia …. Tetapi ingatlah, bahwa sebagai manusia kita diberi dua buah tangan, bersyukurlah kepada Tuhan dengan hal ini, karena satu tanganmu adalah untuk menolong orang lain, dan satu lagi Tuhan berikan untuk menolong dirimu sendiri.  Hhhmmm …. bersyukur ?? Ya bersyukurlah dengan segala apa yang kita miliki.

Imam Ali Zainal Abidin pernah berdoa, ” Tuhan, aku tidak tahu, mana yang harus aku syukuri, rasa sakitku atau kesehatanku. Karena ketika aku sakit, aku berhenti berbuat maksiat dan aku memiliki banyak waktu untuk berdzikir kepada-MU. Aku juga punya waktu untuk bertafakur, merenungkan kehidupanku “. 

Sebuah doa sederhana dengan makna yang begitu mendalam, Tak ada kesalahan kesalahan, tak ada kebetulan kebetulan. Seluruh peristiwa adalah rahmat yang diberikan, agar kita belajar darinya. Begitu jernihnya pikiran saat melantunkan hal ini, karena pikiran bekerja seperti air, agar tetap jernih perlu terus mengalir.

Terjadilah sebuah kebahagiaan yang luar biasa  dalam diri manusia karena kejernihan pikiran, dan rasa syukur yang begitu mendalam, karena ada keyakinan yang kuat inilah yang pada akhirnya kita dimampukan untuk memberi lebih banyak, terbebas dari kebencian dan kecemasan, dengan kedua tangan yang diberikan oleh Tuhan, kita meyakini bahwa di belakangku ada kekuatan yang tak terbatas, di depanku ada kemingkinan tak berakhir, di sekelilingku ada kesempatan tak terhitung, mengapa aku harus diliputi kecemasan ? 🙂

Yuuk, kita tetap menjaga dan merawat pikiran, badan serta jiwa kita ….

/snv

 

Cinta Tanah Air menurut Agama di Indonesia

Dalam Pustaka Wedha pada Bab Sradha dan Bakti (Keimanan dan Kewajiban) umat Hindu terdapat empat Catur Guru, yaitu :

  • Guru Swadyaya, yaitu bhakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan;
  • Guru Wisesa, yaitu bhakti kepada negara/pemerintah;
  • Guru Rupaka, yaitu bakti kepada leluhur;
  • Guru Pengajian, yaitu bhakti kepada guru.

Kewajiban bernegara dan beragama dalam HIndu dapat kita sebut dengan Dharmaning Agama (keimanan) dan Dharmaning Negara (kemanusiaan). Dharma Agama merupakan wujud bakti umat Hindu terhadap ke-Maha Kuasaan Tuhan dalam memerankan ajaran agama yang inovatif, kreatif dan integratif, disamping meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan sebagai bangsa Indonesia yang majemuk.

Sedangkan Dharma Negara adalah hak dan kewajiban serta tanggung jawab umat HIndu untuk senantiasa membela, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan, sekaligus mencintai tanah airnya.

Terkait dengan rasa cinta tanah air (nasionalisme) sebagai umat Hindu dalam membangun masa depan bangsa dan negara, adalah upaya yang patut terus menerus dilakukan. Kualitas amal hanya dapat dipahami melalui tingkah laku dan kepribadian seseorang, yang pada hakikatnya mengantarkan manusia kepada sifat kedewataannya (Madawa) dari sifat keraksasaannya (Danawa). Sifat demikian merupakan hakikat dari pengejawantahan Dharma Agama dan Dharma Negara.

Dalam mantra atau sloka disebutkan ” Yauma swargat api gariyasi” yang artinya manusia lebih cinta tumpah darah (tanah air) daripada Surga dan Moksa.

Maka saya orang Indonesia yang beragama Hindu, bukan orang Hindu yang berada di Indonesia. Jadi jika engkau seorang Hindu, jadilah Hindu yang taat, karena ketaatanmu itu maka akan mencintai tanah airmu.

 

Buddha Gautama mendorong para siswa agar memiliki kecintaan terhadap tanah air, dimana mereka lahir dan tinggal untuk tumbuh berkembang. Beliau memberikan pesan: “Para biku, Aku izinkan mempelajari Dharma dengan bahasamu sendiri” (Vin.ii.139). Maka dalam perkembangan Buddha di belahan dunia, mereka memiliki bentuk budaya yang berbeda beda. Buddha merubah perbuatan buruk, menjadi perbuatan baik.

Di Indonesia, sejak kejayaan Sriwijaya hingga sekarang, perkembangan Buddhaisme tidak merubah budaya yang menjadi kekayaan bangsa. Terlihat jelas, peninggalan Buddhaisme masa lampau berupa bangunan candi dengan corak seni dan budaya Nusantara. Semboyan pemersatu bangsa ” Bhinneka Tunggal Ika ” (KS. 139.5). Karya seorang guru Dharma, putra bangsa di zaman kerajaan Majapahit di abad ke 14, ini adalah wujud cinta tanah air.

Demikian juga di era kemerdekaan bangsa Indonesia hingga sekarang, pelopor kebangkitan Agama Buddha Indonesia, mendiang Bhante Jinarakkhita Mahathera, menekankan “cinta tanah air” melalui gerakan agama Buddha Indonesia atau Buddhayana, bukan agama Buddha di Indonesia, dengan ciri kepribadian bangsa Indonesia. Beliau mengedepankan pandangan non sektarian untuk dapat melihat secara obyektif ke-bhinneka-an yang ada di Indonesia; suku, agama, ras dan antara golongan. Mengajak untuk terus menciptakan kerukunan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama dengan senantiasamemiliki perbuatan, ucapan, pikiran yang berdasarkan cinta kasih, saling berbagi, tidak saling menyakiti dan menghargai segala bentuk perbedaan (A.iii.288289). Inilah wujud cinta tanah air yang diajarkan Buddha dari zaman lampau hingga sekarang.

Maka saya orang Indonesia yang beragama Buddha, bukan orang Buddha yang berada di Indonesia. Jadi jika engkau seorang Buddhis, jadilah Buddhis yang taat, karena ketaatanmu itu maka akan mencintai tanah airmu.

 

Di dalam hadist Rasululloh Shallallahu ‘alaihi Wasallam menerangkan bahwa Hubbul Waton Minal Iman yang artinya cinta tanah air bagian dari iman. Sebagai wujud cintaNya Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia, diciptakanlah tanah air sebagai tempat tinggal manusia itu. Sebagai wujud cintanya manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala wajib mencintai apa yang sudah diciptakan untuknya, yaitu tanah air. CintaNya Allah bertemu dengan cintanya manusia pada tanah air.

Dalam Al Qur’an surat ke-49 Al-Hujurat ayat 13 menerangkan bahwa “Hai manusia, sesungguhnya Kami (Allah) menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa bangsa dan bersuku suku supaya kamu saling kenal-mengenal (nilai kebangsaan/kemanusiaan). Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang  paling taqwa (nilai keimanan) di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. ”

Maka saya orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang berada di Indonesia. Jadi jika engkau seorang muslim, jadilah muslim yang taat, karena ketaatanmu itu maka akan mencintai tanah airmu.

 

San Cai, atau Tiga Entitas Utama merupakan ontologi dari filsafat dan agama Khonghucu, bukan bersifat fisik, tetapi bersifat abstrak. Ajaran Khonghucu mengakui bahwa Tuhan sebagai asal-usul alam semesta dan juga mengendalikan sistem pergerakan alam, akan tetapi manusia juga memiliki kehendak bebas untuk menentukan pilihan dan juga mempunyai tanggung jawab atas perbuatannya sendiri.

Dengan ontologi San Cai itu, agama Khonghucu menekankan pada tanggung jawab manusia kepada Tuhan, Sang Pencipta, tanggung jawab kepada sesama manusia, dan kepada bumi tempat hidupnya. Konsep ini dikenal dengan ungkapan Tian Ren He Yi – Tuhan dan manusia bersatu.

Pembagian San Cai adalah :

Di Dao : Jalan Suci Bumi, hubungan manusia dengan alam (tanah air)

Ren Dao : Jalan Suci Manusia, hubungan manusia dengan manusia (kemanusiaan)

Tian Dao : Jalan Suci Tuhan Yang Maha Esa, hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (keimanan).

Agama Khonghucu tidak mengenal bangsa pilihan atau umat yang dilebihkan atas yang lain. Juga tidak ada tanah suci atau tanah perjanjian, seluruh bumi sama sucinya, karena sama-sama diciptakan Tuhan, umat Khonghucu harus setia kepada pemerintah dimana dia menjadi warga negara.

“Tanah air harus dijaga dari generasi ke generasi, tidak boleh ditinggalkan sekedar pertimbangan pribadi, bersiaplah untuk mati, tetapi jangan pergi”. (Bingcu I B: 15:3).

Tidak menyalahkan orang lain. Aku sendiri belum tentu benar. Senantiasa ingat memohon maaf kepada Tuhan. Senantiasa menjaga kesucian dan kebersihan jiwa.

Maka saya orang Indonesia yang beragama Khonghucu, bukan orang Khonghucu yang berada di Indonesia. Jadi jika engkau seorang Khonghucu, jadilah Khonghucu yang taat, karena ketaatanmu itu maka akan mencintai tanah airmu.

 

Dari seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman, yaitu : ” Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri “. Galatia 5:14, Roma 13:9, Yakobus 2:8, Lukas 10:27, Imamat 19:18, Matius 19:19, Matius 22:39. Melalui firman ini Tuhan menunjukkan bahwa pentingnya mengasihi sesama manusia yang di ejawantahkan dalam nilai luhur kemanusiaan dalam keimanan Tuhan.

“Cintai negaramu sendiri; adalah nilai kebajikan Kristiani untuk menjadi patriotik. Tetapi bila patriotisme menjadi nasionalisme yang membawamu melihat kepada orang lain, kepada negara lain dengan acuh tak acuh, cemoohan tanpa kemurahan hati dan keadilan Kristiani, maka itu adalah dosa.” St. Josemaria Escriva.

Dengan kata lain menurut mendiang Rama Soegijapranata sebagai Uskup Katolik Pribumi pertama Indonesia, ” Mencintai tanah air bukanlah sebuah pilihan, bukan sesuatu yang opsional. Mencintai tanah air adalah sebuah kewajiban, sebuah kewajiban yang mengalir berasal dari syukur dan terima kasih. Gereja Katolik mengajarkan bahwa mencintai tanah air merupakan salah satu wujud dari perintah ke 4 dari 10 perintah Allah, sebagaimana tertulis dalam Katekismus, kita harus mengasihi Gereja Katolik, dan dengan demikian juga mengasihi negara dengan segenap hati. Umat katolik memiliki kewajiban untuk melayani dan mencintai orang tuanya, yang telah memberikan kehidupan dan membesarkannya. Demikian juga sebagai “rahim” peradaban dan masyarakat tempat dimana dibesarkan, tanah air layak untuk mendapatkan “pelayanan dan cinta kita”. Sebagai seorang Katolik, kita terikat oleh cinta kasih untuk melayani dan berkarya bagi kebaikan tanah air Indonesia kita.

Maka saya orang Indonesia yang beragama Katolik, bukan orang Katolik yang berada di Indonesia. Jadi jika engkau seorang Katolik sejati, jadilah Katolik yang taat, karena ketaatanmu itu maka akan mencintai tanah airmu.

 

Berdoa dan berjuang bagi bangsa adalah sebuah tindakan untuk menyatakan rasa cinta pada tanah air. Nabi Yeremia dalam Yeremia 29:7 menyerukan, ” Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” Melihat konteks bangsa Israel pada masa itu, yang mengalami pembuangan ke Babel. Tafsiran Alkitab Full Life bahwa penduduk Yehuda menjadi tawanan di Babel dan Firman Tuhan ,menghendaki supaya mereka itu mengusahakan kesejahteraan atau kemakmuran kota dimana Allah menempatkan mereka karena mereka tidak akan kembali ke tanah perjanjian hingga genap 70 tahun. Oleh sebab itu, kita seharusnya berdoa untuk bangsa dan negara Indonesia ini.

Sebagai suatu bangsa dengan sentimental kebangsaan yang tinggi, tentu bangsa Yahudi enggan berdoa bagi kota dimana mereka akan dibuang. Lebih-lebih kota itu adalah milik penguasa kerajaan yang telah menjadikan mereka sebagai tawanan, Akan tetapi, itulah yang Tuhan kehendaki, bahwa kesejahteraan kota tersebut adalah kesejahteraan umat.

Dalam Amsal 14:34 menyerukan ” Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa”, yang artinya baik buruknya suatu bangsa adalah dari perbuatan bangsa itu sendiri.

Maka saya orang Indonesia yang beragama Kristen, bukan orang Kristen yang berada di Indonesia. Jadi jika engkau seorang Kristen, jadilah Kristen yang taat, karena ketaatanmu itu maka akan mencintai tanah airmu.

 

HIDUP BANGUN AKTIF BERJUANG

” Karena apapun agamanya, kita wajib cintai dan jaga tanah air kita Indonesia Raya, dengan sepenuh hati.  Tanpa adanya rasa cinta tanah air, robohlah negara itu ” – Rama Kyai Muchammad Muchtar Mu’thi, Pemrakarsa Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia, yang dijiwai manunggalnya keimanan dan kemanusiaan.

 

 

 

PCTA Indonesia /setjendpp /snv – materi gerakan cinta tanah air 

 

Cerita Rakyat Nusantara – Asal mula Kota Cianjur

Cianjur adalah salah satu ibukota kabupaten di  provinsi Jawa Barat, yang namanya dikenal si berbagai daerah sebagai penghasil beras yang enak, harum dan segar.  Dari asal usul bahasa, kosa kata Cianjur dapat diartikan sebagai sebuah daerah yang kaya akan air. Namun cerita rakyat yang berkembang di daerah Cianjur, ada sebuah cerita yang menyebabkan daerah ini akhirnya bernama Cianjur.

Bagaimanakah kisah cerita rakyat itu ? 

Anak muda Indonesia yang memiliki kemampuan olah digital ini, menterjemahkannya dalam sebuah kisah film kartun Cerita Rakyat Nusantara tentang asal mula nama kota Cianjur .

Cerita ini mungkin bisa benar, bisa juga tidak. Namun sebagai sebuah cerita rakyat, mari kita ambil pesan pesan baik dari cerita ini bagi generasi anak bangsa Indonesia. 

Selamat menyaksikan …. 🙂