Selamat Merayakan Hari Raya Nyepi 2019

Jika kita perhatikan tujuan filosofis Hari Raya Nyepi, makna dan pelaksanaan Hari Raya Nyepi mengandung arti dan makna yang sangat relevan dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang. Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara Tawur Kesanga tentunya merupakan tuntutan hidup masa kini dan yang akan datang. Bhuta Yajña (Tawur Kesanga) mempunyai arti dan makna untuk memotivasi umat Hindu secara ritual dan spiritual agar alam senantiasa menjadi sumber kehidupan.

Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata “tawur” berarti mengembalikan atau membayar. Sebagaimana kita ketahui, manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. Perbuatan mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dalam karma wasana. Perbuatan mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi, yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas. Mengambil dan memberi perlu selalu dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. Ini berarti Tawur Kesanga bermakna memotivasi ke-seimbangan jiwa. Nilai inilah tampaknya yang perlu ditanamkan sebagai makna dan pelaksanaan hari raya nyepi dalam merayakan pergantian Tahun Saka

Menyimak sejarah lahirnya, dari merayakan Tahun Saka kita memperoleh suatu nilai kesadaran dan toleransi yang selalu dibutuhkan umat manusia di dunia ini, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. Umat Hindu dalam zaman modern sekarang ini adalah seperti berenang di lautan perbedaan. Persamaan dan perbedaan merupakan kodrat. pada zaman modern ini persamaan dan perbedaan tampak semakin eksis dan bukan merupakan sesuatu yang negatif. Persamaan dan perbedaan akan selalu positif apabila manusia dapat memberikan proporsi dengan akal dan budi yang sehat. Brata penyepian adalah untuk umat yang telah mengkhususkan diri dalam bidang kerohanian. Hal ini dimaksudkan agar nilai-nilai Nyepi dapat dijangkau oleh seluruh umat Hindu dalam segala tingkatannya. Karena agama diturunkan ke dunia bukan untuk satu lapisan masyarakat tertentu.

Menurut perumusan dari Parisada, brata penyepian telah dirumuskan kembali menjadi Catur Barata Penyepian yaitu:

  1. Amati Geni (tidak menyalakan api termasuk memasak). Itu berarti melakukan upawasa (puasa).
  2. Amati Karya (tidak bekerja). Hal ini berarti menyepikan indria.
  3. Amati Lelungaan (tidak bepergian). Maknanya mengistirahatkan badan.
  4. Amati Lelanguan (tidak mencari hiburan).

Pada prinsipnya, saat Nyepi, panca indria kita diredakan dengan kekuatan manah dan budhi. Meredakan nafsu indria itu dapat menumbuhkan kebahagiaan yang dinamis sehingga kualitas hidup kita semakin meningkat. Bagi umat yang memiliki kemampuan yang khusus, mereka melakukan tapa yoga brata samadhi pada saat Nyepi itu.

Yang terpenting, makna dan pelaksanaan hari raya Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang tiggi. Hal tersebut akan dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci, hening menuju jalan yang benar atau dharma. Untuk melak-sanakan Nyepi yang benar-benar spritual, yaitu dengan melakukan upawasa, mona, dhyana dan arcana.

Upawasa artinya dengan niat suci melakukan puasa, tidak makan dan minum selama 24 jam agar menjadi suci. Kata upawasa dalam Bahasa Sanskerta artinya kembali suci. Mona artinya berdiam diri, tidak bicara sama sekali selama 24 jam. Dhyana, yaitu melakukan pemusatan pikiran pada nama Tuhan untuk mencapai keheningan. Arcana, yaitu melakukan persembahyangan seperti biasa di tempat suci atau tempat pemujaan keluarga di rumah. Pelaksanaan Nyepi seperti itu tentunya harus dilaksana-kan dengan niat yang kuat, tulus ikhlas dan tidak didorong oleh ambisi-ambisi tertentu. Jangan sampai dipaksa atau ada perasaan terpaksa. Tujuan mencapai kebebesan rohani itu memang juga suatu ikatan. Namun ikatan itu dilakukan dengan penuh keikhlasan. Demikianlah makna dan pelaksanaan Hari Raya Nyepi.

” Rahajeng nyanggra rahina Nyepi caka 1941, dumogi prasida ngalaksanayang Catur Brata Panyepian.”

” Om .. Svaha ..”

sumber : www.parisada.org

/snv




Bakti Sosial Cap Go Meh 2019

Mendukung sebuah acara yang bertema Kebhinnekaan adalah sebuah hal yang mutlak bagi PCTA Indonesia. Sebagai pendukung kegiatan dari acara Bogor Street Festival – Cap Go Meh 2019 di Kota Bogor, Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia – yang Dijiwai Manunggalnya Keimanan dan Kemanusiaan ; menghadirkan layanan Bakti Sosial bersama Panitia Acara Cap Go Meh 2019 dan didukung oleh saudara saudara dari Organisasi Shiddiqiyah, Organisasi Pemuda Shiddiqiyah Bogor Raya, Produk Sehat Tentrem dan Yayasan Peduli Kasih, yang mana semua nama tersebut adalah beberapa pendukung dari Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia.

Acara Bakti Sosial ini menghadirkan Layanan Terapi Kesehatan Tongkat Sehat Tentrem dan Layanan Medis Poli Umum serta Poli Gigi. Acara yang dijadwal mulai tanggal 12 Februari 2019 sampai dengan 18 Februari 2019 ini menghadirkan sebuah partisipasi dari perwujudan terhadap Cinta Tanah Air dengan melayani sesama anak bangsa. Kesehatan Jiwa dan Raga adalah salah satu hal yang akan menjadi harta bagi Bangsa Indonesia dalam proses mengisi Kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh Bangsa Indonesia.

Kegiatan yang menyasar kepada seluruh masyarakat kota Bogor ini diharapkan dapat mengenalkan kepada seluruh masyarakat bagaimana mewujudkan sebuah rasa Cinta terhadap Tanah Air. Dengan lingkungan di area bakti sosial yang berpusat di halaman taman depan Vihara Dhanagun Jalan Suryakencana Bogor ini, diharapkan masyarakat dapat merasakan bagaimana pentingnya memupuk rasa persaudaraan di antara sesama anak bangsa, dan nantinya akan menjadi sumber inspirasi untuk menularkan rasa Cinta ini kepada yang lainnya.

Pada kegiatan yang akan diselenggarakan ini, Tim Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia akan membagikan kupon layanan kesehatan untuk poli umum dan poli gigi sebanyak 1000 lembar, yang dapat digunakan oleh siapapun untuk mendapatkan layanan kesehatan di lokasi bakti sosial.

Kupon ini akan dibagikan oleh petugas dari Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia secara langsung 1 minggu sebelum acara berlangsung dan juga dapat menggunakan berkas online dengan menunjukkan kepada petugas di area lokasi dengan mengakses web organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia DPD Jawa Barat.

Kupon Bakti Sosial Medis Layanan Poli Umum dan Poli Gigi, berlaku tanggal 18 Februari 2019

/snv

Cap Go Meh Bogor Street Festival 2019 – Sebuah Akulturasi dalam Pawai Budaya Nusantara

Arifin Himawan – Ketua Panitia Pelaksana CGM 2019

Menurut Bapak Arifin Himawan sebagai Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan CGM 2019, yang mana beliau juga sebagai anggota Dewan Pertimbangan Organisasi PCTA Indonesia DPD Jawa Barat, ” …. dalam ranah Budaya Nusantara terjadinya akulturasi budaya adalah sebuah keniscayaan yang tak terelakan. Akulturasi Budaya Nusantara yang damai dan harmonis senantiasa melahirkan kearifan lokal yang mumpuni dan unik, salah satunya terekam dan termanifestasikan dalam sebuah pesta seni budaya yang dikenal dengan istilah Cap Go Meh – Bogor Street Festival (Pesta Rakyat Bogor)”.

Cap Go Meh, juga disebut Yuan Xiaojie, Yuanxi, Yuanye atau Shang Yuanjie dalam bahasa Tionghoa, merupakan puncak acara perayaan Tahun Baru Tionghoa (Tahun Baru Imlek), dimana tradisi perayaan Tahun Baru Imlek biasanya disertai upacara syukuran terhadap berkah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa pada tahun sebelumnya.

Secara etimologis Cap Go dari dialek Hokkian yang bermakna ‘lima belas’, Meh berati ‘malam’. Perayaan ini jatuh pada setiap tanggal 15 bulan pertama dalam Tahun Baru Imlek, dan dilakukan di ruang publik sebagai bentuk ungkapan syukur terhadap berkah yang telah diterima sepanjang tahun.

Menurut tradisi Tionghoa, seusai aktifitas Cap Go Meh, maka berakhirlah seluruh perayaan Tahun Baru Imlek pada tahun tersebut.

TRADISI RATUSAN TAHUN

Di Bogor sendiri, Vihara dimana Dewa Hok Tek atau Dewa Rejeki dimuliakan, terletak di Jl. Suryakencana No. 1, Bogor (dahulu disebut Jl. Perniagaan – Handelstraat), yang berdekatan dengan lokasi perdagangan serta urat nadi ekonomi masyarakat Bogor. Vihara tersebut, yang sekarang bernama Vihara Dhanagun (Hok Tek Bio), menempati bangunan yang merupakan cagar budaya Nasional yang terletak di Kota Bogor dan tercatat sebagai aset Dinas Purbakala di Kota Bogor.

Menurut sejarah, bangunan ini pertama kali didirikan oleh masyarakat Tionghoa Kota Bogor pada abad ke-18, lebih dari 300 tahun yang lalu dan jelas lebih tua daripada usia bangunan Istana Bogor maupun Kebun Raya Bogor yang letaknya sangat berdekatan.

Vihara tersebut, pada zaman kolonial terletak pada sebidang tanah milik negara (eigen– dom) seluas 5.000 m2, namun pada masa kini terdesak oleh berbagai ekses pembangunan kota, seperti pelebaran jalan, perluasan pasar dan lahan parkir, serta pembangunan gedung komersil yang menghilangkan sebagian ciri khas Vihara berbentuk pagoda.

Sejak kepengurusan Yayasan Dhanagun, telah diambil prakarsa penataan kembali bangunan tersebut sebagai cagar budaya, sebuah warisan sejarah yang tidak ternilai bagi masyarakat Bogor.

Bagi pemerhati budaya, kiranya dapat terlihat fenomena bahwa Kelenteng Hok Tek Bio atau disebut juga Vihara Dhanagun memberikan rejeki kepada masyarakat sekitar, bisa dilihat dari lokasi yang menciptakan berbagai jenis perdagangan untuk tumbuh dan berkembang, baik berupa pasar tradisional, pasar modern (dept-store), maupun perdagangan pasar tumpah / pasar malam dan toko besar maupun kecil.

Sesuai dengan budaya Nusantara yang beraneka ragam serta diakui dunia internasional sebagai wilayah bertemunya berbagai kebudayaan, maka tradisi perayaan Cap Go Meh – Bogor Street Fest yang bermakna syukuran, telah mengalami perubahan menjadi pesta rakyat dalam arti yang sesungguhnya, dimana berbagai kebudayaan, telah bercampur baur serta dinikmati berbagai lapisan masyarakat Indonesia.

Sebagaimana sejarah telah menulis, Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya masyarakat etnis Tionghoa kiranya patut berbangga dengan keberanian seorang tokoh Muslim, Alm. Presiden RI ke-4, K.H. Abdurahman Wahid ( Gus Dur ), yang mencanangkan Tahun Baru Imlek sebagai Hari Raya Fakultatif pada tahun 2001 yang kemudian disahkan menjadi Hari Raya Nasional pada saat pemerintahan Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri.

Makna dari pencanangan Tahun Baru Imlek sebagai Hari Raya Nasional ditujukan kepada seluruh rakyat Indonesia agar bersatu, saling menghargai dan menghormati dalam keberagaman budaya serta etnis demi kemajuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Khusus untuk perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor menurut literatur sudah dijelaskan bahwa pada tahun 1850an Tjapgomeh menjadi satu-satunya perayaan paling meriah dan merakyat di Buitenzorg (nama Kota Bogor dahulu kala), dengan demikian paling tidak perayaan rakyat dan bersifat publik ini telah tercatat dalam sejarah modern Kota Bogor sejak 168 tahun yang lalu.

Pada era modern ini, perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor dikenal sebagai CGM Bogor StreetFest ( Cap Go Meh Bogor Street Festival ).

CGM – Cap Go Meh – Pesta Rakyat Bogor yang dimulai 15 hari setelah hari raya Imlek yang pada tahun 2019 ini yang dirayakan pada tanggal 5 Februari. Oleh karena itu, tahun ini Pesta Rakyat Bogor Cap Go Meh 2019 akan diselenggarakan pada tanggal 19 Februari 2019.

Sebelum acara puncak pada tanggal 19 Februari 2019, terdapat beberapa kegiatan sebagai bagian dari kesatuan acara CGM – Bogor StreetFest 2019.

  1. Bakti Sosial, kunjungan ke beberapa Panti Jompo dengan menyajikan hiburan khas Cap Go Meh.
  2. Bazaar tahunan CGM – Bogor StreetFest selama 7 hari di Vihara Dhanagun.
  • Malam Wayang semalam suntuk 18 Februari 2019, yang diisi oleh Wayang Potehi dan Wayang Golek.
  • Parade Kuliner Suryakencana pada saat arak-arakan berlangsung.

Diawali dengan upacara menghormati Tuhan Yang Maha Esa, pada Dewa dan Leluhur; maka dimulailah seremoni pembukaan yang terdiri dari menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Doa Bersama dipimpin oleh 6 pemuka agama, pementasan istimewa kesenian daerah dan Kie Lien; dilanjutkan pembukaan prosesi tradisi dan barongsai serta liong, arak-arakan kesenian tradisional, kesenian modern dan lain lain. Prosesi arak-arakan dari Vihara Dhanagun menyusuri Jalan Suryakencana dan kembali ke Vihara sebelum pukul 22:00 WIB.

Panjang rombongan arak-arakan ini biasanya mencapai 1 kilometer, diikuti oleh ribuan peserta serta disaksikan oleh puluhan ribu masyarakat Kota Bogor juga wisatawan dari berbagai kota bahkan mancanegara.

Semua ini menunjukkan kuatnya akar persahabatan di kalangan masyarakat Kota Bogor yang majemuk namun dapat menerima dan menghargai berbagai perbedaan yang ada.

sumber materi : Sekretariat panitia CGM 2019

/snv

AKSI TANGGAP PULIH BENCANA TSUNAMI BANTEN

Melanjutkan aktivitas aksi tanggap bencana tsunami Banten yang telah dilaksanakan oleh Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia pengurus daerah Jawa Barat bersama dengan Yayasan Peduli Kasih dengan memberikan layanan pengobatan, layanan konsultasi kepada masyarakat terdampak tsunami di Kampung Katapang, Desa Cigorondong, Kecamatan Sumur , Kabupaten Pandeglang pada tanggal 8 Januari 2019 yang lalu, Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia pengurus daerah Jawa Barat memprogramkan aksi lanjutan sebagai aksi transisi untuk masyarakat di lokasi, agar dapat kembali memulai aktivitas kesehariannya dengan membantu menyediakan sarana pendukung bagi kehidupan keseharian masyarakat.

Aktivitas lanjutan yang akan dilakukan ini adalah dalam bentuk pembangunan dan pemberian sarana pendukung bagi masyarakat. Sesuai dengan pembicaraan lanjutan dalam kunjungan pertemuan antara pengurus Organisasi PCTA Indonesia bersama beberapa pengurus masyarakat di lokasi , telah disepakati beberapa hal yang akan dilakukan oleh Organisasi PCTA Indonesia di lokasi yaitu :

  • Membantu menyediakan sarana untuk mengalirkan dan menampung air bersih dari sumber air pegununungan ke kampung terdekat.
  • Mendirikan fasilitas MCK permanen bagi masyarakat setempat, yang sedianya akan didirikan di area lingkungan Masjid.

Dalam rangka kegiatan ini, juga telah ditandatangani kesepakatan bersama antara pengurus Organisasi PCTA Indonesia yang diwakili oleh Sekretaris DPD Jawa Barat Bapak Drs. Her Budiarto bertindak atas nama Organisasi PCTA Indonesia dan mewakili Ketua PCTA Indonesia DPD Jawa Barat Bpk. Sunardi Anggawijaya dengan perwakilan masyarakat Kampung Katapang Desa Cigorondong yang diwakili oleh Pengurus Masjid, Pengulu Air dan Ketua RT di wilayah setempat.

Kegiatan aksi tanggap pulih bencana tsunami banten ini, dapat dilakukan atas partisipasi dari anggota Organisasi PCTA Indonesia DPD Jawa Barat yang didukung oleh DPP PCTA Indonesia bersama seluruh DPD PCTA Indonesia dan juga para donatur donatur lainnya.

/snv

Aksi Sosial Tanggap Bencana Tsunami Banten

Sebagai bentuk nyata dari semangat kebangsaan dan cinta tanah air, Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia Pengurus Daerah Jawa Barat, akan mengadakan Aksi Sosial tanggap bencana Tsunami di daerah Pandeglang Banten dalam bentuk Bantuan pelayanan Medis dan pemberian kebutuhan dasar bagi para korban terdampak tsunami Selat Sunda.

Kegiatan yang rencananya akan diselenggarakan pada tanggal 8 Januari 2019 ini, mengajak para relawan dan simpatisan yang ingin bergabung dalam bentuk donasi finansial serta tenaga lapangan yang bersedia membantu aktivitas kegiatan.

Kami membuka rekening donasi melalui Bendahara Organisasi PCTA Indonesia, DPD Jawa Barat. dengan nomor rekening BRI 72000 100 746 7539 atas nama Titiek Aisyah. Yang kami buka sampai dengan tanggal 7 Januari 2019.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi sekretariat pengurus PCTA Indonesia DPD Jawa Barat, Jl Raya Tajur no 127 Bogor.

/snv